Adab Membaca Al Qur’an Yang Benar Menurut Sunnah

adab membaca al qur'an

Adab Membaca Al Qur’an Yang Benar Menurut Sunnah. Bagi seorang Muslim yang membaca Al-Qur’an hendaknya melazimi adab-adab membaca Al-Qur’an yang diajarkan Islam di dalam Al-Qur’an maupun as Sunnah. Dengan melazimi adab berikut ini Insya Allah  bacaan Al-Qur’an kita akan menjadi ibadah yang diterima Allah.

Adab Membaca Al Qur'an Yang Benar Menurut Sunnah'an

Adab Membaca Al Qur’an

Di antara adab membaca alqur’an yang benar yaitu:

  1. Membaca Al-Qur’an dengan niat ikhlas untuk beribadah kepada Allah

Orang yang tidak ikhlas di dalam membaca Al-Qur’an maka mereka termasuk dalam tiga golongan yang pertama kali diseret dan dilempar ke nereka. Lihat (Shohih Muslim, Kitabul Imarah bab Man Qaatala lir Riya’ was Sum’ah Istahaqqa an nar VI/47 atau III/1513-1514 no. 1905; An-Nasa-i, Kitabul Jihad bab Man Qaatala liyuqala : Fulan Jari’, Sunan Nasa-i VI/23-24, Ahmad dalam Musnadnya II/322 dan Baihaqy IX/168. )

“…Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya : ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab : ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid. Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al-Qur-an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca al-Qur-an hanyalah karena engkau.’ Allah berkata : ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al-Qur-an supaya dikatakan seorang qari’ (pembaca al-Qur-an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya : ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’’ (HR. Muslim)

  1. Membaca Al-Qur’an dalam keadaan suci dari hadats dan najis.

Allah  berfirman: “Sesungguhnya Al-Quran Ini adalah bacaan yang sangat mulia. Pada Kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh). Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.” (QS. Al Waqiah [56]: 77-79)

Meskipun yang dimaksud oleh banyak ahli tafsir makna “al Muthoharun” di dalam ayat ini adalah para malaikat. Namun banyak juga ulama yang berdalil dengan ayat tersebut dan keterangan lain bahwa hendaknya tidak menyentuh mushaf atau membaca Al-Qur’an kecuali dalam keadaan suci. Inilah pendapat yang lebih selamat dan mendekati kebenaran.

  1. Dianjurkan menghadap kiblat ketika membaca Al-Qur’an jika memungkinkan. ( Al-Muntaqo min Fatawa Al-Fauzan jilid 2 fatwa 15)
  2. Mengawali bacaan Al-Qur’an dengan membaca “istiadzah” (perlindungan terhadap gangguan setan yang terkutuk.)

Allah berfirman: “Apabila kamu membaca Al-Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An Nahl [16]: 98)

Menurut jumhur ulama membaca Isti’adzah saat membaca Al-Qur’an di luar sholat hukumnya sunnah. Adapun lafadz isti’adzah menurut jumhur ulama adalah sebagai berikut:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

“ A’udzubillahi minasy Syaithoni Rojim / Aku berlindung kepada Allah  dari godaan setan yang terkutuk.”

  1. Membaca basmalah yaitu bacaan “Bismillahirohmanirrohim” di awal setiap surat kecuali surat at-Taubah. Dijelaskan oleh sebagian ulama mengapa basmalah tidak dicantumkan di awal surat, karena surat tersebut berisikan baroah (pemutusan hubungan) antara kaum muslimin dengan orang kafir serta berisi tentang jihad dan perang terhadap orang kafir.
  2. Membaca al-Quran dengan penuh kekhusyu’an, tidak bersenda gurau dan tertawa-tawa.
  3. Membaca Al-Qur’an dengan cara tartil.

Allah  berfirman: “…dan bacalah Al-Quran itu dengan cara tartil.” (QS. Al Muzzammil [73]: 4)

Maksud membaca dengan tartil adalah dengan seksama (perlahan-lahan) seraya memperhatikan hukum tajwid yang benar.

  1. Berusaha memperbagus bacaan Al-Qur’an.

زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ

“Hiasilah Al-Qur’an dengan suara-suara kalian” (HR. al -Baihaqi)

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ

“Bukan golongan kami orang yang tidak melagukan Al-Qur’an” (HR. al -Baihaqi)          

Adapun maksud dari melagukan Al-Qur’an adalah memperjelas dan memperbagus suara ketika membaca Al-Qur’an. Sehingga bisa meraih kekhusyu’an dan menggugah jiwa yang mendengarkan.

  1. Memilih waktu dan tempat yang tepat dalam membaca Al-Qur’an. Diantara waktu yang tepat untuk membaca Al-Qur’an ketika dalam sholat di malam hari. Semakin mendekati sepertiga malam semakin baik. Adapun tempat yang paling bagus yaitu di masjid-masjid Allah . Allah  berfirman:

“Hai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya). (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al-Quran itu dengan cara tartil (perlahan-lahan).” (QS. Al Muzzammil [73]: 4)

10. Melakukan sujud tilawah jika membaca ayat-ayat sajdah. Sujud tilawah adalah sujud setelah membaca ayat-ayat sajdah (ayat-ayat yang diperintahkan bagi pembacanya untuk sujud). Nabi bersabda:

إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ ، اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِي يَقُولُ : يَا وَيْلَهُ وَفِي رِوَايَةِ أَبِي كُرَيْبٍ يَا وَيْلِي أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ ، وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَأَبَيْتُ فَلِيَ النَّارُ

“Jika anak Adam membaca ayat sajadah, lalu dia sujud, maka setan akan menjauhinya sambil menangis. Setan pun akan berkata-kata: “Celaka aku. Anak Adam disuruh sujud, dia pun bersujud, maka baginya surga. Sedangkan aku sendiri diperintahkan untuk sujud, namun aku enggan, sehingga aku pantas mendapatkan neraka.” (HR. Muslim)

Sujud tilawah dilakukan dengan sekali sujud. Adapun bacaan sujud tilawah adalah bacaan ketika sujud biasa di dalam sholat (سُبْحَانَ رَبِيَ اْلأَعْلَى). Atau membaca doa. Banyak doa yang beredar tentang doa sujud tilawah namun yang jelas-jelas shohih adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

“Ya Allah  untuk-Mu aku bersujud. Dan kepada-Mu aku beriman. Dan untuk-Mu aku berserah diri. Bersujud wajahku kepada yang menciptakan Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Maha Suci Allah Sebaik-baik Pencipta)” (HR. Muslim)

11. Bertadabbur terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang sedang dibaca.

Allah  berfirman: “Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran(QS. Shod [38]: 29)

12. Berusaha menangis ketika membaca Al-Qur’an adalah Terutama ketika membaca ayat-ayat tentang dahsyatnya adzab neraka.

13. Tidak mengeraskan bacaan Al-Qur’an ketika didapati di sekitarnya ada orang yang berdoa atau sholat. Hal ini sebagaimana hadits berikut ini:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى النَّاسِ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَقَدْ عَلَتْ أَصْوَاتُهُمْ بِالْقِرَاءَةِ فَقَالَ إِنَّ الْمُصَلِّي يُنَاجِي رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَلْيَنْظُرْ مَا يُنَاجِيهِ وَلَا يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ بِالْقُرْآنِ

“Bahwasanya Rosululloh  keluar menemui manusia sementara mereka sedang sholat (di masjid) dan suara bacaan Al-Qur’an mereka meninggi. Maka nabi  berabda:  “Sesungguhnya orang yang sholat sedang berunajat kepada Robbya Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi maka hendaknya masing-masing memperhatikan munajatnya dan janganlah sebagian mengeraskan suara di atas yang lain dalam membaca Al-Qur’an” (HR.Ahmad)

14. Menutup bacaan Al-Qur’an cukup dengan berhenti atau diam saja. Tidak menjadikan bacaan “shodaqollahul adzim/Maha Benar Allah (dengan segala firman-Nya)” sebagai bacaan yang senantiasa dibaca setiap kali selesai membaca Al-Qur’an. Sehingga terkesan bahwa bacaan tersebut merupakan bacaan khusus dalam mengakhiri bacaan Al-Qur’an

15. Disunnahkan berdoa ketika menghatamkan Al-Qur’an dengan doa-doa kebaikan. Hal ini Sebagaimana atsar/riwayat shohih dari Anas bin Malik yang diriwayatkan Imam Ad Darimi bahwa Anas ketika ia menghatamkan Al-Qur’an maka ia mengumpulkan keluarganya dan berdoa.”

16. Meletakkan Al-Qur’an di tempat yang layak dalam keadaan tertutup. Sebaiknya di letakkan di tempat yang bersih, rapid an lebih tinggi. Jangan sampai meletakkan al-Qur’an berceceran di lantai. Hal tersebut demi memuliakan kitabullah. Jika buku kesayangan kita saja kita simpan dan letakan di tempat yang layak. Tentu kitabllah jauh lebih dari itu.

Hawari, Lc, MEI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comments links could be nofollow free.