Teladan Birrul Walidain dari Abu Hurairah

doa untuk kedua orang tua

Birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) jalan yang haq dalam menggapai ridha Allah ‘Azza wa jalla melalui orang tua.  Di dalam al-Qur’an perintah untuk berbakti kepada orang tua diletakkan setelah perintah untuk bertauhid. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” (QS al-Israa’ [17]: 23-24)

Perintah birrul walidain juga tercantum dalam surat an-Nisaa’ ayat 36:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Dan beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS an-Nisaa’ [4]:36)
Salah satu bentuk birrul walidain adalah melalui do’a. Mendoakan kedua orang tua bukan hanya ketika mereka sudah wafat, namun juga ketika mereka masih hidup. Mendoakan kedua orang tua bukan hanya melalui lisan, tetapi bisa juga dengan cara meminta kepada orang yang shalih supaya mendoakan kebaikan, hidayah dan petunjuk bagi kedua orang tua kita. Usaha maksimal harus ditempuh oleh seorang anak yang berbakti untuk kebaikan dan keshalihan bapak ibunya. Sebagaimana teladan yang ditunjukkan seorang shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu yang penuh kegigihan dalam mendo’akan orang tuanya.

Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya dari Yazid bin Abdurrahman, ia berkata: “Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu bercerita kepadaku:
“Dahulu aku mengajak ibuku memeluk Islam, saat itu ia masih musyrik. Pada suatu hari aku pergi mendakwahinya, lalu aku mendengar perkataannya yang tidak mengenakkan tentang Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Aku pun menemui Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam sambil berlinang air mata. Kukatakan kepada beliau:

“Wahai Rasulullah, aku telah mengajak ibuku memeluk Islam, namun ia menolak ajakanku. Pada suatu hari aku pergi mendakwahinya, lalu aku mendengar perkataannya yang tidak mengenakkan tentang dirimu! Mohonkanlah kepada Allah semoga memberi hidayah bagi ibuku!”

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam berdoa: “Ya Allah, berilah hidayah bagi ibu Abu Hurairah!”
Aku pun keluar dengan perasaan gembira karena doa Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam tersebut. Sesampainya di ambang pintu kudapati pintu tertutup. Ibuku ternyata mendengar suara langkahku. Ia berkata: “Tetaplah engkau di tempatmu hai Abu Hurairah!”

Aku mendengar suara percikan air dari dalam, ternyata ibuku sedang mandi lalu mengenakan baju kurung dan selendangnya, baru kemudian membukakan pintu, ia berkata:

“Hai Abu Hurairah, sesungguhnya aku bersaksi Laa ilaaha illallah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.”

Lalu akupun kembali menemui Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam sambil berlinang air mata karena luapan kegembiraan. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, sambutlah kabar gembira, doamu telah dikabulkan Allah! Allah telah memberi hidayah bagi ibuku!” Beliau pun memanjatkan segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala sembari mengucapkan perkataan yang baik.

Aku berkata: “Wahai Rasulullah, mohonkanlah kepada Allah agar menjadikan segenap kaum mukminin mencintai aku dan ibuku serta menjadikan kami mencintai hamba hamba-Nya yang beriman.” Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam berdoa:

“Ya Allah, jadikanlah hamba-Mu ini (yakni Abu Hurairah) dan ibunya orang yang dicintai oleh kaum mukminin dan jadikanlah mereka mencintai orang orang yang beriman!”

Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata: “Maka setiap hamba mukmin yang mendengar perihal diriku pasti mencintai diriku meski belum melihatku!” (HR. Muslim (2491)).

Sungguh sebuah teladan yang agung dari seorang anak shalih, yang berbakti pada orang tuanya. Cobalah lihat bagaimana kegigihan Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan usahanya yang pantang menyerah dalam mendakwahi ibunya agar mendapat petunjuk kepada Islam. Hingga ia menempuh jalan yang paling mulia yaitu doa. Dan bukan hanya doanya saja, bahkan ia meminta kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam agar mendoakan ibunya.

Ini adalah teladan bagi siapa saja yang menginginkan kedua orang tuanya mendapat petunjuk kepada Islam dan Sunnah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comments links could be nofollow free.