Agar Iman Senantiasa Kokoh (1)

agar-iman-kokoh

Iman bagi seorang hamba adalah segala-galanya. Ia adalah miliknya yang paling berharga. Lebih mahal daripada dunia dan seisinya. Di sisi Allah Ta’ala, iman memiliki kedudukan yang tinggi dan luhur. Ia adalah kewajiban yang paling urgen dan tuntutan yang paling penting. Setiap kebaikan dunai dan akhirat tergantung pada kebaikan dan keselamatan iman. Iman merupakan prasyarat meraih hayatan thoyyiban atau kehidupan yang indah di dunia maupun di akhirat. Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan ia adalah seorang yang beriman, maka sungguh akan Kami anugerahkan baginya kehidupan yang indah dan sungguh akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS an-Nahl [16]:97)

Seorang muslim yang diberi taufiq oleh Allah Ta’ala seharusnya memprioritaskan penjagaannya terhadap keimanan di atas segalanya dalam rangka mencontoh salafushshalih. Para salafushshalih selalu bersungguh-sungguh menjaga keimanan mereka, memeriksa amal mereka dan saling berwasiat di antara mereka.

Iman yang telah tertancap dalam hati seorang mukmin, bagaikan sebatang pohon yang mempunyai beberapa cabang. Cabang-cabangnya menjulang tinggi ke langit dan akarnya pun terhujam kokoh di bumi. Dan pohon tersebut akan senantiasa memberikan buahnya pada setiap saat dengan izin Allah. Allah Ta’ala berfirman:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ. تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit (24). pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat (25).” (QS Ibrahim [14]:24-25)

Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di Rahimahullah menerangkan bahwa seorang hamba yang mendapatkan taufiq dari Allah Ta’ala akan selalu berusaha melakukan dua perkara:

Pertama, merealisasikan iman dan cabang-cabangnya serta menerapkannya baik secara ilmu dan amal secara bersama-sama.

Kedua, berusaha menolak semua perkara yang dapat menafikan dan menghapus keimanan ataupun menguranginya berupa fitnah-fitnah (kesesatan) yang nampak maupun yang tersembunyi, mengobati kekurangan dari awal dan mengobati yang seterusnya dengan taubat nasuha.

Yang dimaksud fitnah oleh beliau adalah semua perkara yang bisa mengancam keselamatan iman. Fitnah-fitnah tersebut banyak sekali macamnya, akan tetapi secara umum terbaagi ke dalam dua golongan besar yaitu fitnah syubhat dan fitnah syahwat. Syubhat artinya tersamarnya kebenaran. Sedangkan syahwat artinya hawa nafsu yang menyelisihi syari’at.

Mewujudkan iman dan mengokohkannya dilakukan dengan mengenal sebab-sebab bertambanya iman dan melaksanakannya. Sebaliknya berusaha menolak semua yang menghapus dan menentangnya dialakukan dengan mengenal sebab-sebab berkurangnya iman dan berhati-hati terjerumus di dalamnya.

….bersambung ke tulisan ke-2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comments links could be nofollow free.