Hermeneutika Metode Tafsir al-Qur’an Kaum Liberal

kesesatan tafsir hermeneutika

Salah satu program musuh-musuh Islam yang kini dilakukan adalah proyek liberalisasi Islam besar-besaran di Indonesia dan dunia Islam lainnya. Proyek liberalisasi Islam ini tentu saja masih menjadi bagian dari tiga cara pengokohan hegemoni Barat di dunia Islam, yaitu melalui program kristenisasi, imperialisme modern dan orientalisme.

Al-Qur’an menjadi salah satu terget musuh-musuh Islam dalam menyesatkan kemurnian akidah Islam. Metode panafsiran hermeneutika diterapkan agar al-Qur’an tidak lagi dipahami sebagaimana mestinya. Metode hermenutika ini termasuk salah satu proses liberalisasi.

Hermeneutika secara etimologi diambil dari kata yunani, “Hermenuin”, yang berarti tafsir dan penjelasan serta penerjemahan. Dalam pendapat lain kata “Hermeneutik” diambil dari kata Hermes. Hermes sendiri adalah utusan dewa-dewa dalam mitologi yunani. Akan tetapi, dia juga adalah tuhan yang berubah dari tuhan orang-orang mesir kuno Theht. Dengan begitu hermeneutika membangun sebuah teori penafsiran tentang alam dan wujud: awal mulanya dan kembalinya.[i]

Dalam terminology modern, hermeneutika juga merupakan ilmu yang digunakan dalam mencari pemahaman teks secara umum, yaitu dengen memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang beragam dan saling berkaitan seputar teks dari segi karakteristiknya dan hubungannya dengan kondisi yang melingkupinya dari satu sisi serta hubungannya dengan pengarang teks serta pembacanya dari sisi yang lain. Selain itu, penting dicatat bahwa hermeneutika fokus membahas dengan serius seputar hubungan penafsir (atau kritikus teks sastrawi) dengan teks.[ii]

Membaca dan memahami kitab suci dengan cara menundukkannya dalam ruang SEJARAH, BAHASA dan BUDAYA yang terbatas, adalah watak dasar hermeneutika yang dikembangkan oleh peradaban Barat sekuler yang tidak sejalan dengan konsep tafsir atau takwil dalam khazanah Islam. Metode hermeneutik ini secara ijma’ oleh kelompok Liberal di Indonesia bahkan di dunia ditahbiskan sebagai metode baku dalam memahami ajaran Islam baik dalam Qur’an maupun Sunnah.[iii]

Hermeneutika bukan sekedar tafsir, melainkan satu “metode tafsir” tersendiri atau satu filsafat tentang penafsiran, yang bisa sangat berbeda dengan metode tafsir Al-Qur’an, Di kalangan Kristen, saat ini penggunaan Hermeneutika dalam interpretasi Bibel sudah sangat lazim, meskipun juga menimbulkan perdebatan.[iv]

Hermeneutika Metode Tafsir Al-Qur'an Kaum Liberal

Hermeneutika Metode Tafsir al-Qur’an Kaum Liberal

Virus Hermeneutika Merusak Prinsip-prinsip Dasar Islam

Salah satu dampak dari Hermeneutika jika diterapkan untuk menafsirkan al-Qur’an adalah penyelisihan terhadap kaidah-kaidah umum Islam, merelatifkan batasan antara ayat-ayat muhkam dan mutasyabih,usȗl dan furu’, qat’iyyah dan dzaniyyah, mencerca ulama Islam, dekonstruksi konsep wahyu yaitu menggugat otentisitas al-Qur’an sebagai kitab yang terlindungi lafadz dan maknanya, dan juga akan mereduksi sisi kerasulan Sang Penyampai Wahyu Muhammad S.A.W. hingga pada tingkatan sebatas manusia biasa yang sarat dengan kekeliruan dan hawa nafsu.[v]

Dampak buruk lainnya dari Hermenutika bisa dilihat dari sikap para pengusungnya dari kaum Liberal. Secara terang-terangan dituangkan ke dalam tulisan-tulisan dan sikap mereka sebagai bukti pembenaran akan idiologi mereka. Berikut ini diantara catatan merah kaum Liberal akibat menerapkan hermeneutika dalam studi al-Qur’an adalah:

Muhammad Arkoun melakukan proyek dekontruksi al-Qur’an, di antaranya dengan menolehkan pandangan ummat Islam bahwa mushaf yang kita miliki saat ini bukanlah al-Qur’an seperti yang diturunkan, tetapi telah mengalami berbagai penyelarasan sesuai dengan petunjuk sistem penulisan ortodoks. Ia juga memindahkan teks al-Qur’an yang suci itu dari area teologis kepada area penelitian linguistic dan menundukannya kepada kajian sastra.[vi]

Nasr Hamid Abu Zayd menempuh metode Hermeneutika terhadap teks-teks keislaman dan di antara hasil yang dilakukannya; 1. Al-Qur’an adalah teks yang diproduksi realitas, alias “produk budaya”, 2. Aqidah Islam dibangun di atas mitos sesuai kondisi cultural yang menjadi tempat kemunculannya. 3. Syariat Islam terus membentuk dirinya dan berkembang sesuai hukum realitas. 4. Zaman sakralisai sudah punah, karena ia adalah pembodohan dan pembodohan akal dan pemenjaraan makna. 5. Sumber keilahian Al-Qur’an bertentangan dengan analisis ilmiah objektif, karena telah mengorbankan dimensi manusia untuk kemaslahatan manusia.[vii]

Di antara hasil teori hermeneutika yang diterapkan oleh Hasan Hanafi:  teks agama (“ayat”) datang setelah pesaraan Nabi S.A.W. mengalami krisis, sehingga beliau merasakan kebutuhan genting untuk solusi, dan juga menurut Hasan Hanafi, bahwa pengalaman individual manusia adalah satu-satunya sumber menafsirkan teks dan menggugurkan semua sumber yang menjadi asal makna semantic teks dahulun kala, apapun bentuknya.[viii]

Amin Abdullah berkata dalam pengantar buku Hermeneutika Pembebasan, “Selama ini, teologi Islam lebih banyak didominasi oleh tema keserbasempurnaan Tuhan ketimbang makna manusiawi dari tema-tema tersebut dalam sejarah.”[ix]

Ilham B.Saenong mengatakan, “Apalagi sebagian besar tafsir dan ilmu penafsiran yang diwarisi ummat Islam selama ini, sadar atau tidak, telah turut melanggengkan status quo dan kemorosotan ummat Islam secara moral, politik dan budaya.”[x]

Kesesatan Metode Tafsir Hermeneutika

Pertama, Metode hermeneutika merupakan metode Yahudi-Nashroni dalam kajian Bibel. Menerapkan hermeneutika dalam studi al-Qur’an berarti mengikuti pola pikir orang-kafir kafir.

  1. Amin Abdulloh, salah seorang pengusung Hermeneutika, secara terang-terangan mengakui asal muasal metode ini, ia mengatakan, “Hermeneutika sebagai metode penafsiran berkembang pesat di lingkungan gereja untuk memahami pesan-pesan Yesus. Dalam lingkungan Kristen awal, Origen (hidup tahun 185-254) dikenal sebagai orang yang telah memperkenalkan pembacaan “tipologis” terhadap Bibel yakni menggunakan metode alegoris untuk memahami ajaran-ajaran Yesus. Nama-nama lain yang sangat dikenal dalam tradisi hermeneutika Biblis adalag Augustine (345-430) dengan Doctrina Cistriana-nya yang terkenal: Inner Logos, Martin Luther dengan pola Sola Scriptua-nya, dan Mathias Flacius Illyricus (1520-1575) dengan pendiriannya dengan metode Gramatikal, scopus (Pentingnya mempertimbangkan sudut pandang yang berkaitan dengan tujuan penulisan sebuah buku). Bahkan buku yang pertama kali menggunakan istilah hermeneutika “Hermeneutica Sacra Sive Methodus Exponendarums Sacrarum Litterarrum” karya J.C Dannheur, juga masih berkaitan dengan penafsiran terhadap Bibel.”[xi]

Ungkapan di atas merupakan bukti bahwa secara sadar kaum Liberal telah mengadopsi metode orang kafir. Padahal dalam al-Qur’an dikatakan bahwa mereka Yahudi dan Nashrani telah menyelewengkan kitab Rabb-Nya. Menggunakan Hermeneutika berarti telah menggunakan metode kaum yang dikafirkan Allah S.W.T. atas penyimpangannya terhadap kalam rabb-Nya. Penggunaan metode Hermeneutika berarti akan mengikuti langkah kekufuran Yahudi dan Nashrani, dan ini telah dilarang dalam Islam.

Allah S.W.T. berfirman:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 120)

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abȗ Sa’îd al-Khudri bahwa Rasulallah S.A.W. bahwa beliau bersabda:

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ. قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ.

“Sungguh kalian akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga meskipun mereka berjalan masuk kedalam lubang Biawak, niscaya kalian akan mengiktuinya.” lalu kami bertanya: wahai Rasulullah apakah mereka itu adalah Yahudi dan Nashroni?” Beliau bersabda, “Siapa lagi?” (HR. al-Bukhori No.3197)

Rasulullah S.A.W. bersabda:

لاَ تَسْأَلُوهُمْ عَن شَيْءٍ فَيُخْبِرُوكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوا بِهِ أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوا بِهِ وَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ, لَوْ كَانَ مُوسَى حَيًّا مَا وَسِعَهُ إلاَ أَنْ يَتَّبِعَني.

“Janganlah kalian menanyakan sesuatu urusan agama kepada mereka (Ahlul kitab), karena mereka tidak akan memberi kalian petunjuk dan mereka telah tersesat. Bisa jadi kalian akan membenarkan yang batil dan mendustakan yang benar. Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya bila nabi Musa masih hidup diantara kalian, pastilah beliau akan mengikutiku.” (HR. Ibn Abi Syaibah dengan sanad yang hasan)

Penyimpangan lain yang disebabkan hermenutika adalah sering menggugat hal-hal yang prinsip dalam Islam. Hal ini karena dalam hermeneutika selelu cenderung merelatifkan hal-hal yang qhat’i.

Nurcholish Madjid salah seorang Liberal Indonesia pernah menuliskan dalam tabloid Tekad No.44/th II, 4-10 September 2000 Hlm.11, “Kalau kita baru sampai pada iyyaka na’budu berarti kita masih mengklaim diri kita mampu dan aktif menyembah. Tetapi kalau sudah wa iyyaka nasta’in, maka kita lebur, menyatu dengan Tuhan.”

Nurcholish Madjid juga pernah mengatakan pada 23 januari 1987 di pengajian Paramadina, “Iblis Kelak akan masuk Surga, bahkan di tempat yang tertinggi karena dia tidak mau sujud kecuali kepada Allah saja, dan inilah tauhid yang murni.”[xii]

Ulil Absar Abdalla dalam salah satu artikel yang penulis akses pada 05-12-2012 di webwww.islamlib.com dengan tema “Kebebasan Pilih-pilih”, dia mengatakan, “Dalam penafsiran saya, kebebasan yang dimaksud dalam Al-Baqarah: 256 mencakup dua jenis kebebasan sekaligus. Pertama, kebebasan eksternal, yakni kebebasan bagi seseorang untuk masuk atau tidak masuk ke dalam agama tertentu. Kedua, kebebasan internal, yakni kebebasan bagi seseorang untuk memilih sekte, mazhab, dan golongan tertentu dalam agama yang dipeluk oleh yang bersangkutan. Dengan demikian, sesorang bebas untuk memeluk atau tidak memeluk agama Islam. Misalnya, manakala orang itu memutuskan untuk masuk Islam, maka ia juga memiliki kebebasan untuk mengikuti golongan apapun yang ada dalam Islam: Sunni, Syiah, Mu’tazilah, Wahhabiyah, Ahmadiyah, dsb. Sebab, Islam bukanlah entitas yang monolitik; di dalam Islam, sejak masa-masa formatifnya sendiri, kita jumpai banyak sekte, mazhab, dan golongan yang berbeda-beda.”[xiii]

Pernyataan tokoh Liberal ini benar-benar mengusung kebebasan bergama dan aliran-aliran. Sedangkan dalam Islam menetapkan kebenaran Islam sebagai satu-satunya agama yang benar dan diridhai Allah S.W.T. sebagaimana dalam QS. Ali Imran ayat 19 dan 85.

Pernyataan tokoh Liberal lain yang mengusung Hermeneutika adalah Nasr Hamid Abu zayd, dia pernah mengatakan, ““Saya menjadi sadar bahwa homoseksual adalah fenomena yang alami. Dengan pemahamannya ini, Kemudian abu Zayd mempertanyakan ajaran islam, “Apakah Islam selalu menerima homoseksual selain sebagai perilaku menyimpang? Tidak [Pernah berubah pandangan semacam ini] kecuali kita melakukan renolusi yang nyata, suatu perubahan cara berfikir tentang Al-Qur’an dalam hubungannya dengan kehidupan kita.” Dalam mengekspresikan kekagumannya terhadap kaum homoseksual ini, Abu Zayd menulis, “Saya sangat menyukai kekaguman mereka, dan bahkan mulai mengagumi sebagian mereka. Saya tidak pernah bisa untuk menulis tentang pengalaman seperti ini di Mesir.” [xiv]

Selain menggugat prinsip-prinsip dasar Islam, Hermenetika juga menjadikan kaum Liberal tidak segan-segan menggugat ulama-ulama Islam. Perbuatan ini tentu merupakan campur tangan musuh-musuh Islam yang terus menerus ingin menghancurkan Islam.

Amin Abdulloh mengatakan, “Jika kita menelusuri hermeneutika Hasan Hanafi yang bercorak transformatif- humanistik tersebut, segera akan kita temukan bahwa ternyata ada satu hal yang selama ini terabai atau sengaja diabaikan oleh muffair klasik, yaitu fungsi per-formatif audiens (pemirsa yang menjadi tujuan penafsiran) dalam menentukan hasil penafsiran. Metode penafsiran al-Qur’an selama ini senantiasa hanya memperhatikan hubungan penafsir dengan teks al-Qur’an tanpa pernah mengeksplisitkan kepentingan audiens terhadap teks… tafsir-tafsir klasik al-Qur’an tidak lagi memberi makna dan fungsi yang jelas dalam kehidupan ummat Islam. bahkan banyak sekali penafsiran al-Qur’an sering dipelintir demi maksud-maksud politik, sementara klaim objektifitas dan paling benar sendiri (truth claim) selalu dikedepankan.”[xv]

Abdul Moqsith Ghazali dalam tulisannya, “Menegaskan Kembali Pembaharuan Pemikiran Islam” di islamlib.com yang diterbitkan pada 09/07/2011, ia mengatakan, “Bentuk partsipasi paling bertanggung jawab dalam memaknai al-Qur’an adalah dengan mengkerangkakannya ke dalam sebuah bangunan metodologi. Para ulama terdahulu telah menyusun sejumlah metodologi untuk menafsirkan al-Qur’an. Namun, berbagai pihak menilai bahwa metodologi yang disuguhkan para ulama terdahulu terlampau rumit, sehingga tak mudah diakses banyak orang. Persyaratan-persyaratan kebahasaan dan kemestian-kemestian gramatikal yang ditetapkan para ulama ushul fikih dalam menafsirkan al-Qur’an misalnya menimbulkan perasaan minder umat Islam ketika berhadapan dengan al-Qur’an… Kita memerlukan metodologi sederhana dan ringkas dalam menafsirkan al-Qur’an, sehingga penafsiran al-Qur’an bisa dilakukan banyak orang.”[xvi]

Sebenarnya, pengusung hermeneutika ketika menggugat metode tafsir salafushâleh, pada hakekatnya merusak telah merusak metode memahami Islam. Sehingga ketika ketika Hermeneutika digunakan dalam menafsirkan al-Qur’an, maka Islam tidak lagi dipahami sebagaimana generasi terbaik memahami. Padahal generasi terbaik ummat ini telah dipuji oleh Rasulallah S.A.W. sebagai sebaik-baik genarasi manusia.

Rasulullah S.A.W. bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قرني ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah pada zamanku, kemudian setelahnya dan kemudian setelahnya.” (HR. al-Bukhari)

Hukum asal sikap seorang muslim terhadap al-Qur’an adalah mengikutinya secara lahir batin sebagai bukti keimanan. Sikap tunduk dan patuh ini tidak dimiliki oleh para pengusung Hermeneutika dari kaum Liberal, mereka bukan hanya menggunakan metode orang kafir dalam menafsirkan al-Qur’an, mereka pun secara terang-terangan tidak menundukkan pemikiran mereka kepada petunjuk Islam.

Allah S.W.T. berfirman:

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

“Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian, dan janganlah kalian ikuti selain Dia sebagai pemimpin. Sedikit sekali kalian mengambil pelajaran.” (QS. Al-A’raf [7]: 3)

Allah S.W.T. berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى. قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا

Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia:Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” (QS. Thaaha [20]: 124)

Maksud kehidupan yang sempit dalam ayat tersebut adalah adzab kubur, bahwasannya ia akan disempitkan kuburnya. Ada juga yang mengatakan bahwa maksud kehidupan sempit dalam ayat tersebut adalah kehidupan sempit di dunia, sekalipun secara dzahir nampak bahagia, akan tetapi hatinya sempit. Ayat ini menunjukkan bahwa berpegang teguh terhadap al-Qur’an merupakan sebab kebahagiaan dunia akherat, tidak mengalami kesempitan hidup dan tidak pula tersesat. Adapun berpaling dari al-Qur’an menjadi sebab mengalami kesempitan hidup dan sesat di dunia dan akherat.[xvii]

Penggunaan metode Hermeneutika dalam manafirkan al-Qur’an termasuk kategori berpaling dari al-Qur’an. Metode hermeneutika menjadi sebab utama al-Qur’an tidak akan dipahami sebagaimana yang dipahami oleh Rasulallah S.A.W. dan sahabatnya sebagai tauladan dalam memahami dan mengamalkan Islam. Bahkan, hasil penggunaan metode hermeneutika pun sering kali bertentangan dengan pirnsip-prinsip dasar Islam. Penggunaan heremeutika juga berarti mengikuti kaum Orientalis yang kufur terhadap al-Qur’an, sehingga tidak diragukan lagi akan tersesatnya penggunaan metode hermeneutika dalam menafsirkan al-Qur’an kalamullah yang mulia. Semoga artikel tentang Hermeneutika Metode Tafsir al-Qur’an Kaum Liberal ini bermanfaat. Allahu a’lam

Disusun oleh: Abu Mujahidah al-Ghifari, Lc., M.E.I.

 

FOOTNOTE

[i] Fahmi Salim, Kritik Terhadap Studi al-Qur’an Kaum Liberal, Jakarta: Kelompok Gema Insani, Cetakan Pertama, 2010, Hlm. 51-52.

[ii] Ibid, Hlm. 5.

[iii] Di Indonesia kelompok ini sudah sampai pada pemahaman pluralisme, menganggap semua agama itu sama atau pararel, semua menuju keselamatan dan tidak boleh memandang agama orang lain dengan agama yang kita peluk. Lihat, Hartono Ahmad Jaiz, Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, Cetakan ke-21, 2010, Hlm. 225.

[iv] Adian Husaini dan Abdurrahman al-Baghdadi, Hermeneutika dan Tafsir Al-Qur’an, Jakarta: Gema Insani, Cetakan Pertama, 2007, Hlm. 8.

[v] Lihat penjelasannya, Hanri Shalahuidin, Al-Qur’an Dihujat, Jakarta: al-Qalam Kelompok Gema Insani, 2007, Hlm. xxvi., dan lihat, Adian Husaini dan Abdurrahman al-Baghdadi, Hermeneutika dan Tafsir Al-Qur’an, Jakarta: Gema Insani, Cetakan Pertama, 2007, Hlm. 17-44.

[vi] Fahmi Salim, Kritik Terhadap Studi Al-Qur’an Kaum Liberal, Jakarta: Kelompok Gema Insani, Jakarta, Cetakan Pertama, 2010, Hlm. 212-218.

[vii] Ibid, Hlm. 384, di antara hasil ijtihad Abu Zaid yang sangat menyimpang, ia mengatakan tentang homoseksual, “Saya menjadi sadar bahwa homoseksual adalah fenomena yang alami.”. Tentang poligami Abu Zaid berpendapat bahwa poligami adalah penistaan bagi wanita, ia mengharamkan poligami, ia juga menolak jilbab, ia mengatakan, “Sesungguhnya pengekangan wanita dalam busana jilbab adalah simbol penjelmaan pemasungan pada akal dan eksisteni sosialnya, dan pengabaian eksistensi sosialnya ini adalah praktik pembunuhan yang serupa dengan praktek ritual bom bunuh diri yang sewaktu-waktu diarahkan kepadanya untuk pengekangan wanita mesir.”. Ia juga menyuarakan kesetaraan gender, dan masih banyak pemikiran ngawur dan sesatnya. Lihat, Hanri Shalahuidin, Al-Qur’an Dihujat, Jakarta: al-Qalam kelompok Gema Insani, 2007, Hlm. 47-59.

[viii] Ibid, Hlm. 238.

[ix] Ilham B.Saenong, Hermeneutika Pembebasan Metodelogi Tafsir Al-Qur’an Menurut Hasan Hanafi, Penerbit Terajau, Cetakan I, 2002,  Hlm. xviii.

[x] Hermeneutika Pembebasan Metodelogi Tafsir Al-Qur’an Menurut Hasan Hanafi, Penerbit Terajau, Cetakan I, November 2002, Hlm. 10.

[xi] Ilham B.Saenong, Hermeneutika Pembebasan, Penerbit Teraju, Cetakan Pertama, November 2002, Hlm. xxi-xxii.

[xii] Hartono Ahmad Jaiz, Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, Cetakan Keduapuluh Satu, 2010, Hlm. 193-194.

[xiii] http://islamlib.com/id/artikel/kebebasan-pilih-pilih. Diakses pada 05 Desember 2012

[xiv] Lihat, Hanri Shalahudin, Al-Qur’an Dihujat, Jakarta: al-Qalam Kelompok Gema Insani, Cetakan Pertama, 2007, Hlm. 47-49.

[xv] Ilham B.Saenong, Hermeneutika Pembebasan, penerbit teraju, cetakan 1, November 2002, hlm.xxv-xxvi

[xvi] http://islamlib.com/id/artikel/menegaskan-kembali-pembaruan-pemikiran-islam

[xvii] Lihat, Muhammad ibn Shâlih al-Utsaimin, Syarh Muqadimah Ushȗl al-Tafsir, Kairo: Dâr ibn al-Jauzi, Cetakan Pertama, 2005, Hlm. 12-13.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comments links could be nofollow free.