Perbedaan Agama Syiah dan Islam

syiah bukan-Islam

Perbedaan Agama Syiah dan Islam. Sebagai sebuah agama, Syiah pun mempunyai dasar-dasar agamanya.

Karena Syiah terlahirkan di tengah-tengah umat Islam dan mengklaim bahwa mereka adalah bagian dari umat ini, maka dengan sendirinya akan banyak kesamaan pada hal-hal yang bersangkutan dengan nama, personal dan sejarah.

Sama halnya dengan kesamaan-kesamaan yang ada antara agama Islam dengan agama Kristen dan Yahudi.

Perbedaan Agama Syiah Dan Islam

Karena Kristen dan Yahudi dilahirkan di tengah-tengah umat Islam pada zamannya dan mengklaim sebagai para pengikut nabi-nabi Islam, maka nama-nama para Nabi dan Rosul serta sisi-sisi dari syariat di ketiga agama (Islam, Yahudi dan Kristen) banyak sekali mempunyai kesamaan.

Tetapi semua kesamaan itu sama sekali tidak bisa menjadi dasar untuk mengatakan bahwa semua agama tersebut di atas adalah sama.
Hal ini telah menjadi kesepakatan seluruh umat manusia.

Ketidaksamaan tersebut disebabkan karena berbedanya sumber dari ketiga agama tersebut, karena sumberlah yang membentuk dan mewarnai akidah serta peribadatan dan sikap keseluruhan.

Semua hal ini jugalah yang memastikan bahwa Syiah dan Islam adalah dua agama berbeda dan beberapa kesamaan diantara keduanya sama sekali tidak menjadikan keduanya satu agama.

Sumber agama Syiah: Berbeda dengan Islam.

sumber pertama Syiah bukanlah Al-Qur’an yang asli tetapi Al-Qur’an yang telah dirubah-rubah, ditambah-tambah dan dikurang-kurangi.

Dengan alasan mengembalikan kemurnian al-Quran, mereka telah mengadakan pengeditan pada ayat-ayat yang mereka tuduh telah terubahkan.

Sehingga hasilnya adalah “ayat baru” yang berbeda dalam susunan kata dan artinya, bahkan bisa bertentangan dengan aslinya.

Tujuan dari tuduhan bahwa al-Qur’an telah berubah adalah untuk menetapkan para Sahabat sebagai pemalsu al-Qur’an dan di waktu yang sama memberi mereka legitimasi untuk memasukkan ke dalam al-Qur’an kepalsuan-kepalsuan yang membenarkan ajaran mereka dengan alasan mengembalikan al-Qur’an sebagaimana diturunkan.

Dengan demikian syiah memiliki sumber yang berbeda yaitu al-Qur’an yang telah mereka rubah sebagian kandungannya.

Contoh ayat-ayat yang dirubah oleh Syiah dengan alasan mengembalikan ayat tersebut ke versi murninya karena (menurut klaim mereka) ayat tersebut telah dirubah oleh para Sahabat:

Surat al-Ma’idah ayat 67
“Hai Rosul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Robbmu, dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” (QS. al-Ma’idah [5]: 67)

Ayat ini menurut klaim mereka ada kata-kata yang dihapus yaitu kata-kata yang artinya “Tentang Ali” sehingga ayat itu menurut mereka seharusnya berbunyi demikian:
“Hai Rosul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu tentang Ali, dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.”

Firman Alloh dalam surat an-Nisa ayat 168
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezoliman, Alloh sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka.” (QS. an-Nisa’[4]: 168)

Ayat di atas mereka rubah menjadi:
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezoliman terhadap keluarga Muhammad, Alloh sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka.”

Syiah menyembunyikan akidah mereka tentang ketidakotentikan Al-Qur’an di hadapan orang-orang awam dan mereka menunda pemunculan (pencetakan) Al-Qur’an yang mereka rubah-rubah sampai datangnya imam mahdi mereka yang tidak akan pernah datang.

Kalau kita menerima klaim bahwa  Syiah menerima al-Qur’an sebagai salah satu sumber, tetapi penafsiran al-Quran pada Syiah sangat jauh dari kaidah-kaidah yang benar. Hal yang demikian melahirkan kesimpulan-kesimpulan dan arti-arti yang jauh berbeda dengan yang dimaksudkan oleh Alloh dan Rosul-Nya.

Hal ini sama dengan mereka menimba dari sumber yang berbeda karena hasilnya pasti berbeda, (sumber kedua agama Syiah bukanlah hadis-hadis Rosululloh  yang sohih (walaupun beberapa hadis diterima oleh Syiah) akan tetapi sumber mereka  adalah riwayat-riwayat (mereka namakan hadis) yang diklaim oleh mereka sebagai ucapan-ucapan dan ketetapan-ketetapan dari Ahlulbait).

Riwayat-riwayat yang diklaim asalnya dari ahlulbait ini dijadikan oleh Syiah sebagai pengganti hadis-hadis (Sunnah) Nabi.

Aplikasi dari sumber ini adalah dikumpulkannya hadis-hadis palsu yang diklaim berasal dari para ulama Ahlulbait yang mereka klaim sebagai imam-imam mereka, disusun oleh seorang ‘ulama’ Syiah yang bernama al-Kulaini dalam bukunya yang bernama Ushul al-Kafi.

Hadis-hadis tersebut tidak pernah melalui sistem penyaringan apalagi penyaringan yang dipercaya seperti yang ada pada Ahlussunnah.

Hampir semua hadis-hadis tersebut meriwayatkan kemungkaran-kemungkaran yang ditolak Islam.

Dengan demikian sumber kedua syiah inipun berbeda dengan sumber kedua umat Islam yaitu hadis-hadis Rosululloh  yang sohih.

Selain kitab al-Kafi yang dikarang oleh al-Kulaini, banyak lagi buku-buku ulama Syiah yang mengandung riwayat-riwayat palsu mengatasnamakan ahlulbait.

Hampir semua riwayat-riwayat tersebut keluar dari standar Islami dan standar akal sehat.

Penolakan hadis-hadis Rosululloh dan pemakaian sumber-sumber lainnya tersebut di atas jelas berarti bahwa Syiah mempunyai sumber-sumber agama yang berbeda dengan sumber-sumber agama Islam.

“Keberbedaan sumber adalah faktor mutlak bahwa Syiah bukanlah Islam”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comments links could be nofollow free.