Seluruh Nabi dan Rasul Beragama Islam

Seluruh Nabi dan Rasul Beragama Islam.

Seluruh Nabi dan Rasul Beragama Islam. Untuk menyelamatkan peribadatan umat manusia dan menjauhkan mereka dari segala praktek kesyirikan maka Allah Ta’ala mengutus para nabi dan rasul di setiap zamannya. Seluruh nabi dan rasul tersebut sama-sama menganut dan mendakwahkan agama Islam, dari rasul pertama hingga rasul terakhir.

Seluruh Nabi dan Rasul Beragama Islam

Nabi Nuh a.s. adalah rasul pertama yang diutus pada saat kepada umat manusia. Beliau diutus tatkala terjadi kesyirikan pertama melanda. Sejak zaman Nabi Adam a.s. sampai Nabi Nuh a.s. umat manusia berada di atas agama Islam. Kesyirikan tersebut terjadi karena mereka meninggalkan syariat para nabi mereka, sehingga Nabi Nuh a.s. diutus untuk mendakwahkan umatnya agar kembali memurnikan ibadah hanya kepada Allah Ta’ala.[1]

Abdullah ibn Abbas r.a. berkata:

كَانَ بَيْنَ آدَمَ وَنُوحٍ عَشَرَةُ قُرُونٍ كُلُّهُمْ عَلَى الْإِسْلَامِ فَبِتَرْكِهِمْ اتِّبَاعَ شَرِيعَةِ الْأَنْبِيَاءِ وَقَعُوا فِي الشِّرْكِ

“Antara Adam dan Nuh terdapat sepuluh abad, seluruh mereka berada di atas agama Islam. Disebabkan mereka meninggalkan syariat para nabi maka mereka terjatuh dalam kesyirikan.”

Nabi Nuh a.s. merupakan rasul pertama, beliau menganut dan mendakwahkan Islam. Seruan dakwah Nabi Nuh a.s. yang mengajak umatnya agar memurnikan ibadah hanya untuk Allah Ta’ala diabadikan di dalam al-Qur’an sebagaimana firman Allah Ta’ala sebagai berikut:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata, “Wahai kaumku beribadahlah kalian kepada Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagi kalian selain-Nya.” Sesungguhnya aku takut kalian akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).” (QS. Al-A’raf [7]: 59)

Ayat ini menunjukkan bahwa rasul pertama Nabi Nuh a.s. mengusung dakwah tauhid, yaitu dakwah agar beribadah hanya kepada Allah Ta’ala dan menjauhi Tuhan-tuhan palsu. Dakwah yang diusung oleh Nabi Nuh a.s. juga diusung oleh nabi-nabi lainnya. Termasuk di antaranya adalah  Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa a.s. yang diutus kepada bani Israil.

Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa a.s. menganut dan mendakwahkan agama sebagaimana nabi-nabi lain yaitu agama Islam. Hanya saja, seiring dengan perkembangan zaman, umat mereka pun kembali pada penyelewengan dalam memahami ajaran nabi mereka, sehingga mereka mempunyai paham tersendiri. Paham itulah yang kemudian menjadi sebuah agama yang bernama Yahudi dan Nashrani. Kemudian, penganut agama Yahudi mengklaim bahwa Nabi Musa a.s. menganut agama Yahudi. Penganut agama Nashrani pun mengklaim bahwa Nabi Isa a.s. adalah penganut agama Nashrani. Keyakinan ini jelas sesat menyesatkan karena para nabi dan rasul menganut dan mendakwahkan Islam.

Yahudi dan Nashrani bukanlah agama samawi karena agama samawi hanyalah Islam. Yahudi merupakan agama yang dianut oleh umat Nabi Musa a.s. yang telah menyimpang dari ajaran Nabi Musa a.s. dan umat beliau a.s. yang konsisten mengikuti ajaran Nabi Musa a.s. dengan berpegang teguh terhadap kitab Taurat adalah seorang muslim bukan Yahudi.

Asal usul penamaan Yahudi yaitu dinisbatkan kepada (يهوذا) salah seorang anak Nabi Ya’qub a.s.. Kemudian keturunan Nabi Ya’qub a.s. yaitu yang disebut dengan Bani Israil banyak menyimpang dari ajaran-ajaran Islam yang didakwahkan oleh nabi-nabi mereka, sehingga “Yahudi” menjadi istilah agama tersendiri, dan bukan agama yang diusung oleh para nabi, terlebih nama Yahuda bukan-lah nama di antara nama nabi-nabi Allah yang Dia utus untuk kalangan bani Israil.[2]

Dalam sejarah, Bani Israil  sudah melakukan kesesatan sejak Nabi Musa a.s. masih hidup, yaitu dengan tidak mau beriman sebelum meminta melihat Allah Ta’ala secara langsung dan menjadikan patung anak sapi sebagai sesembahan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ

“Ingatlah ketika kalian berkata, ‘Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang’ karena itu kalian disambar halilintar, sedang kalian menyaksikannya.” (QS. al-Baqarah: 55)

وَإِذْ وَاعَدْنَا مُوسَى أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَنْتُمْ ظَالِمُونَ

“Ingatlah, ketika Kami berjanji kepada Musa memberikan Taurat, sesudah empat puluh malam, lalu kalian menjadikan anak lembu sesembahan sepeninggalnya dan kalian adalah orang-orang yang zalim.” (QS. al-Baqarah [2]: 51)

Setelah Nabi Musa a.s. wafat, maka umat beliau  semakin tersesat dari ajaran Nabi Musa a.s., di antaranya: menisbatkan Uzair sebagai anak Allah Ta’ala, merubah firman-firman Allah Ta’ala, menghalalkan yang diharamkan Allah Ta’ala dan mengharamkan yang dihalalkan Allah Ta’ala, menutup-nutupi kebenaran dan berbagai kesesatan lainnya.[3]

Adapun Nashrani, adalah agama yang dinisbatkan kepada agama yang dibawa Nabi Isa a.s. dengan kitab Injil. Penisbatan tersebut adalah sebuah kesesatan besar karena Nabi Isa a.s. adalah seorang Nabi yang menganut agama Islam sebagaimana Nabi-nabi yang lain. Penyimpangan umat Nabi Isa a.s. sama seperti orang-orang Yahudi yaitu merubah ajaran-ajaran yang diturunkan Allah Ta’ala kepada Nabi Isa a.s. lalu hasil perubahan itu dianut dan menjadi agama tersendiri yang sangat berbeda dengan ajaran Nabi Isa a.s.

Ada sebagian yang berpendapat, bahwa penamaan Nashrani dinisbatkan kepada nama salah satu tempat di Palestina, yaitu tempat kelahiran Nabi Isa a.s.. Ada juga yang mengatakan dinisbatkan kepada pengikut setianya yang menolong dakwah Nabi Isa a.s. sebagaimana diabadikan dalam al-Qur’an surat al-Shaff ayat 14. Terlepas pendapat mana yang lebih benar, yang jelas Nashrani sudah menjadi istilah nama agama tersendiri yang dinyatakan sesat dalam Islam.

Kesesatan nyata agama Nashrani adalah akidah trinitas yang diyakininya dengan menjadikan Nabi Isa a.s. sebagai tuhan tandingan selain Allah Ta’ala atau disetarakan dengan tuhan. Akidah ini dibantah secara tegas dalam al-Qur’an surat al-Maidah ayat 73:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwa Allah salah seorang dari yang tiga. Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain Allah Yang Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS. al-Maidah [5]: 73)

Dalil lain tentang bantahan Allah Ta’ala terhadap ajaran trinitas adalah firman Allah Ta’ala dalam al-Qur’an surat al-Nisa ayat 171 dan al-Maidah ayat 115-117.[4]

Di dalam al-Qur’an, Allah Ta’ala membantah klaim Yahudi dan Nashrani bahwa Nabi Ibrahim a.s., Nabi Musa a.s., dan Nabi Isa a.s. beragama yahudi atau Nashrani. Hal ini disebabkan karena para Nabi tersebut menganut dan mendakwahkan Islam semasa hidupnya.

Allah Ta’ala berfirman:

مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ

“(Ikutilah) agama orang tua kalian Ibrahim. Dia telah menamai kalian orang-orang muslim dari dahulu.”(QS. al-Hajj [22]: 78)[5]

وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَى تَهْتَدُوا قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Mereka berkata, ‘Hendaklah kalian menjadi penganut agama Yahudi atau Nashrani, niscaya kalian mendapat petunjuk. Katakanlah: Tidak! Melainkan kami mengikuti agama Ibrahim yang lurus. Dan beliau Ibrahim bukanlah dari golongan orang-orang musyrik.” (QS. al-Baqarah [2]: 135)[6]

أَمْ تَقُولُونَ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطَ كَانُوا هُودًا أَوْ نَصَارَى قُلْ أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللَّهُ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهُ مِنَ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Ataukah kalian (hai orang-orang Yahudi dan Nashroni) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya adalah penganut agama Yahudi atau Nashrani? Katakanlah, ‘Apakah kalian yang lebih mengetahui ataukah Allah? Siapakah yang lebih zholim dari pada orang yang menyem-bunyikan syahadah dari Alloh yang ada padanya? Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kalian kerjakan.” (QS. al-Baqarah [2]: 140)[7]

Dengan demikian, Nabi Ibrahim a.s. bukan seorang pembawa atau penganut agama Yahudi dan Nabi Isa a.s. bukan pembawa atau penganut agama Nashrani. Beliau berdua adalah pembawa dan penganut agama Islam. Maka, wajib bagi mereka Yahudi, Nashrani dan bahkan seluruh umat manusia untuk mengimani Rasulallah S.A.W., karena risahlahnya untuk seluruh umat manusia, dan menghapus syariat Islam yang diusung oleh nabi-nabi sebelumnya. Jika tidak mengimani Rasulallah S.A.W.  maka bukanlah seorang muslim.

Disusun oleh: Abu Mujahidah al-Ghifari, Lc., M.E.I.

FOOTNOTE:

[1] Banyak dalil yang menunjukan bahwa Nuh a.s. adalah rasul pertama yang diutus kepada umat manusia. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya.” (QS. Al-Nisa [4]: 163)

Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan Kami jadikan kepada keturunan keduanya kenabian dan al-Kitab, maka di antara mereka ada yang menerima petunjuk dan banyak di antara mereka fasik.” (QS. Al-Hadid [57]: 26)

Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan Hadits syafa’at kepada para nabi, “Maka mereka pun mendatangi Nuh dan mereka berkata, “Wahai Nuh.. Engkau adalah Rasul pertama yang diutus ke muka bumi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

[2] Tuhan menurut Yahudi disebut dengan “Yahweh”, dan dia bukanlah Tuhan yang menciptakan, tapi Tuhan yang diciptakan sesuai dengan keinginan mereka. Dia tidak ma’sum, tetapi melakukan kesalahan, membebek, menyesal, menyuruh mencuri, kejam, fanatik dan menghancurkan umat manusia. Dia hanyalah Tuhan milik Yahudi saja. (Lihat, Lajnah Ilmiah LPD al-Huda, Hakekat Yahudi, Bogor: Lembaga Studi Agama Islam Terpadu (LESAT) al-Hidayah, 2001, hlm. 20)

[3] Perkataan Yahudi yang menisbatkan Uzair sebagai anak Allah diabadikan ole Allah Ta’ala dalam al-Qur’an surat al-Taubah ayat 30-31.

Uzair atau Ezra yang dimaksudkan di sini adalah dia yang telah mewujudkan dan mengadakan tauratnya Musa setelah hilang. Dia pula yang telah membangun Haikal Sulaiman. Atas jasa-jasa itulah akhirnya Uzair dianggap sebagai anak Allah. (Lihat, Lajnah Ilmiah LPD al-Huda, Hakekat Yahudi, Bogor: Lembaga Studi Agama Islam Terpadu (LESAT) al-Hidayah, 2001, hlm. 20)

[4] Nabi Isa a.s. berlepas diri perbuatan para pengikutnya yang durhaka. Dalam hal ini Nabi Isa a.s. tidak disebut dengan thaghut karena sebutkan thaghut salah satunya kepada yang diibadahi selain Allah Ta’ala  sedang dia ridha dan Nabi Isa a.s. sama sekali tidak ridha diibadahi selain Allah Ta’ala. Sehingga tidak disebut dengan thaghut.

Allah Ta’ala berfirman, “Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.” (QS. al-Maidah [5]: 117)

[5] Ayat ini merupakan landasan dalil bahwa Allah Ta’ala telah menamakan Islam bagi pemeluknya sejak sebelum diturunkannya al-Qur’an dan setelah diturunkannya al-Qur’an. Jadi, tidak ada perubahan nama bagi agama Allah Ta’ala yang Dia turunken kepada umat manusia di setiap zamannya.

[6] Ayat ini membantah Yahudi yang mengaku bahwa Nabi Ibrahim a.s. beragama Yahudi. Demikian pula orang-orang Nashrani yang mengaku bahwa Nabi Ibrahim a.s. beragama Nashrani. Salah satu berbedaannya adalah, Nabi Ibrahim a.s. bukanlah orang musyrik yang menyekutukan Allah Ta’ala sedangkan Nashrani menjadikan Isa a.s. sebagai anak Tuhan dan Yahudi menjadikan Uzair sebagai anak Tuhan. Sehingga, tidak pantas bagi Yahudi dan Nashrani mengaku sebagai pengikut Nabi Ibrahim a.s..

Di dalam ayat lain, secara tegas Allah Ta’ala menolak anggapan Yahudi dan Nashrani bahwa Nabi Ibrahim a.s. sebagai pendahulu mereka. Allah Ta’ala  berfirman dalam al-Qur’an surat Ali Imran ayat 67:

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang muslim yang lurus dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran [3]: 67)

[7] Dalil ini bantahan lain kepada Yahudi dan Nashrani yang mengaku-ngaku bahwa para Nabi mereka berada di atas agama mereka. Kemudian, Allah Ta’ala mengajukan pertanyaan sebagai bentuk pencelaan kepada mereka: Apakah kalian lebih mengetahui atau Allah Ta’ala yang lebih mengetahui?

Muhammad Ali al-Syaukani menjelaskan tafsir firman Allah Ta’ala (Apakah kalian lebih mengetahui ataukah Allah) yaitu Sesungguhnya Allah mengabarkan kepada kita bahwa mereka (para Nabi) bukanlah orang-orang Yahudi maupun Nashrani, sedangkan kalian mengaku bahwa mereka termasuk Yahudi dan Nashrani, maka apakah kalian lebih mengetahui ataukah Allah.” (Fath al-Qadir, Jilid 1, hlm. 131)

Secara logika akal sehat manusia, penisbatan Nabi Ibrahim sebagai seorang Yahudi dan Nashrani sangat tidak masuk akal, hal ini karena Yahudi merupakan paham agama yang muncul setelah Nabi Musa alaihisalam dan Nashrani adalah paham agama yang muncul setelah Nabi Isa alaihisalam sedangkan Nabi Ibrahim alaisalam adalah seorang Nabi yang diutus sebelum mereka. Bahkan, asal usul nama Yahudi sendiri dinisbatkan kepada nama anak Nabi Ya’qub alaihisalam, dan beliau adalah anak Nabi Ishaq alaisalam, dan Nabi Ishak alaihisalam adalah salah satu anak Nabi Ibrahim alaihisalam. Jadi, tidak mungkin seseorang dinisbatkan agamanya kepada paham agama yang datang setelah wafat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comments links could be nofollow free.