Hukum Aborsi

haruskah aborsi

Allah ‘Azza wa jalla berfirman:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (QS al-A’raf [7]:16)

Iblis telah bersumpah akan menyesatkan manusia dari jalan yang lurus, shirotul mustaqim. Segala tipu muslihat dilakukan Iblis dan bala tentaranya yang terdiri dari kalangan jin dan manusia. Mereka senantiasa menggoda manusia dari arah depan, belakang, samping kiri dan kanan. Pintu-pintu maksiat diperluas dan dihiasi, ketakwaan dicela sampai-sampai meninggalkannya menjadi salah satu sifat bijaksana atau syarat untuk menjadi manusia modern. Sehingga tidak sedikit manusia yang terkena bujukan dan rayuan syetan.

Seiring perkembangan jaman di era yang menyuarakan kebebasan atas nama hak asasi manusia dan demokrasi saat ini, fenomena free sex yang semakin menggila menjadi salah satu buktinya. Dan salah satu dampaknya adalah praktik aborsi tersebar luas di jaman ini. Hal ini didukung dengan bermunculannya beragam sarana yang mudah dan modern untuk menggugurkan kandungan. Kemudian diperparah dengan adanya campur tangan dari musuh-musuh Islam yang ingin merusak tata kehidupan dan kualitas kaum Muslimin sekarang ini. Banyaknya iklan dan slogan kebebasan berekspresi dalam semua sektor kehidupan membawa manusia melakukan perbuatan nista tanpa ada rasa malu dan takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla .

Banyak wanita yang terkena bujukan syetan lewat seorang lelaki. Mereka merayu sedikit-sedikit sehingga sang wanita mau untuk melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan kecuali oleh suami istri.  Pada akhirnya penyesalan selalu datang terlambat. Mahkota keperawanan seorang wanita yang seharusnya selalu dijaga sampai mereka mendapatkan lelaki yang sah dalam ikatan pernikahan hilang dalam kenikmatan sesaat. Bahkan rahimnya telah terisi seorang anak zina yang tidak berdosa.

Karena tidak mau menanggung malu disebabkan perutnya yang semakin membuncit, hamil di luar nikah, maka tanpa rasa takut kepada Sang Pencipta, mereka mengambil aborsi sebagai salah satu solusi menghilangkan rasa malu pada masyarakat. Mereka mengugurkan janin yang dikandungnya. Na’udzubillah! Ibarat pepatah, “sudah jatuh tertimpa tangga pula”, sudah melakukan dosa dengan perbuatan zina, alih-alih bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat malah berbuat dosa yang lebih besar dengan membunuh anak yang tak berdosa di dalam rahimnya.

Padahal Allah Ta’ala dengan hikmah-Nya yang agung menjadikan keturunan sebagai satu tuntutan alami pada manusia. Keturunan ini ada akibat bertemunya sepasang suami istri dengan cara yang telah dianjurkan dan ditetapkan oleh syari’at. Lalu menjadikan anak dan keturunan yang disukai sebagai buah pernikahan dan dicintai setiap manusia yang masih lurus fitrahnya. Begitu pentingnya keturunan dan nasabnya ini, sehingga Islam menjadikannya sebagai salah satu dari lima perkara penting dan pasti terjaga dalam Islam (adh-Dharuriyât al-Khamsu). Dari sini perhatian dan perlindungan janin termasuk perkara penting agama Islam dalam seluruh fase-fase pembentukannya.

Mungkinkah mereka tidak menyadari bahwa melakukan praktik aborsi adalah tindakan yang diharamkan ?

Syaikh Muhammad bin Ibrahim Rahimahullah berkata dalam Majmu’ Fatawanya 11/151, “adapun usaha untuk menggugurkan kandungan adalah tidak boleh selama belum jelas bayi dalam kandungan itu mati, akan tetapi jik abayi tersebut jelas mati maka boleh melakukan pengguguran.”

Para ulama-ulama besar Kerajaan Saudi Arabia yang terkumpul dalam Majelis Kibarul Ulama (MUI-nya Kerajaan Saudi Arabia) no 140 tanggal 20 Jumadil Akhir 1407 telah menetapkan permasalahan aborsi sebagai berikut,

  1. Tidak boleh melakukan aborsi dengan jalan apapun kecuali dengan cara yang baik yang dibenarkan oleh syar’i, itu pun dalam batas yang sangat sempit
  2. Jika kandungan itu masih dalam putara pertama (selama 40 hari) lalu ia melakukan pengguguran pada masa ini karena khawatir mengalami kesulitan dalam mendidik anak-anak, atau khawatir tidak bisa menanggung beban hidup dan pendidikan mereka atau dengan alasan mencukupkan dengan beberap aanak saja, maka semua itu tidak dibenarkan oleh syari’at
  3. Tidak boleh melakukan aborsi, jika kandungan telah membentuk ‘alaqah (segumpal darah) atau mudhgah (segumpal daging) sampai ada keputusan dari tim dokter yang tsiqah (terpercaya) bahwa melanjutkan kehamilan akan membahayakan keselamatan ibunya. Jika demikian maka melakukan pengguguran dibolehkan, setelah segala macam usaha untuk menghindari bahaya bagi sang ibu dilakukan (dan tidak ada jalan yang harus dilakukan selain aborsi itu)
  4. Setelah putaran yang ketiga, yaitu setelah usia kandungan genap 40 hari, maka tidak halal melakukan pengguguran sehingga ada pernyataan dari tim dokter spesialis yang terpercaya bahwa jika janin itu dibiarkan dalam perut ibu akan menyebabkan kematiannya. Hal ini dibolehkan setelah asegalam macam usaha untuk menjaga kehidupan janin dilakukan. Ini hanya rukhshah (keringanan/kebolehan) yang bersyarat karena menghadapi dua bahaya sehingga harus mengambil yjalan yang lebih maslahat.

Syeikh Muhammad bin Utsaimin dalam Risalah Fiddima’ith-Thabi’iyah lin Nisa’i menyebutkan, sesungguhnya jika penguguran kandungan itu untuk melenyapkan keberadaannya, sementara ruh telah ditiupkan pada bayi maka hal itu haram tanpa keraguan, karena telah membunuh jiwa tanpa alasan yang benar. Dan membunuh jiwa yang diharampak membunuhnya adalah haram menurut Al-Qur’an, sunnah dan ijma’.

Disebutkan pula dalam kitab Ahkaamun Nisa’ halaman 108-109 oleh Imam Ibnu Jauzi. Biasanya yang diinginkan seseorang dalam menikah adalah untuk mendapatkan anak, tetapi tidak setiap air itu menjadi seorang anak, maka apabila air itu terbentuk, berarti tercapailah maksud pernikahan.” Maka sengaja melakukan aborsi adalah menyelisihi maksud dari hikmah nikah. Adapun pengguguran yang dilakukan di awal-awal mengandung saja sebelum ruh ditiupkan adalah termasuk dosa besar, hanya saja hal itu lebih kecil dosanya dibandingkan menggugurkan bayi yang telah ditiupkan ruh. Maka kesengajaan menggugurkan bayi yang telah ditiupkan ruh itu berarti sama dengan membunuh seorang mukmin. Disini, aborsi mirip dengan al-Wa’du (membunuh anak hidup-hidup) yang dahulu pernah dilakukan di zaman Jahiliyah. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ . بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ

“Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya. Karena dosa apakah dia dibunuh.” (QS at-Takwir [81]:8-9)

dan firman-Nya:

مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan Dia telah membunuh manusia seluruhnya.” (QS al-Mâidah [5]:32)

Oleh karena itu, wahai kaum muslimah, bertakwalah kepada Allah ‘Azza wa jalla. Jangan terpengaruh oleh ajakan-ajakan yang menyesatkan serta jangan pula mengekor kepada kebatilan yang tidak bersandar pada akal sehat dan dinul Islam. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comments links could be nofollow free.