Hukum Dua Shalat Jama’ah Dalam Satu Masjid

Hukum Dua Shalat Jama’ah Dalam Satu Masjid

Rasulallah S.A.W. dan dan para sahabatnya senantiasa melaksanakan shalat secara berjama’ah di masjid. Pada masa Rasulallah S.A.W., hanya orang munafik dan orang yang benar-benar memiliki uzur syar’i yang tidak shalat berjama’ah di masjid. Bahkan, dalam kondisi perang maupun ketakutan tetap diperintahkan mendirikan shalat secara berjama’ah.

Allah Ta’ala berfirman:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dirikanlah oleh kalian shalat, tunaikanlah zakat serta shalatlah beserta orang-orang yang shalat. (QS. al-Baqarah [2]: 43)

قَالَ عَبْدُاللهِ بْنُ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: لَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنِ الصَّلاَةِ إِلَّا مُنَافِقٌ قَدْ عُلِمَ نِفَاقُهُ أَوْ مَرِيْضٌ إِنْ كَانَ اْلمَرِيْضُ لَيَمْشِي بَيْنَ رَجُلَيْنِ حَتَّى يَأْتِيَ الصَّلَاةَ. وَقَالَ: « إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّمَنَا سُنَنَ اْلهُدَى وَإِنَّ مِنْ سُنَنِ اْلهُدَى الصًّلَاةَ فِى اْلمَسْجِدِ الَّذِي يُؤَذَّنُ فِيْهِ ».

Abdulloh bin Mas’ud r.a. berkata, “Sungguh! aku melihat orang-orang di antara kami dan tidaklah mengabaikan shalat berjama’ah kecuali orang munafiq yang kemunafiqannya telah diketahui dengan jelas ataupun dia orang yang sakit. Bahkan, sekalipun sakit hendaknya dia berjalan di antara dua orang untuk melaksanakan shalat, kemudian beliau berkata: sesungguhnya Rasulallah S.A.W. mengajarkan kepada kami sunnah-sunnah petunjuk dan di antara sunnah-sunnah petunjuk itu adalah mendirikan shalat di mesjid yang dikumandangkan adzan.”(HR. Muslim No.654)

 

Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu al-Fatawa berkata, “Adapun shalat berjama’ah, maka dalil dari al-Qur’an, as-Sunnah dan perkataan para sahabat nabi menunjukan akan kewajiban hukumnya bagi seseorang yang tidak punya uzur. Sedangkan seseorang yang memiliki uzur maka gugurlah kewajiban shalat berjamah tersebut.”

Oleh karena itu, maka hendaknya setiap muslim memberikan perhatian khusus untuk melaksanakan dan menjaga shalat wajib secara berjama’ah. Banyaknya masjid-masjid di negeri kaum muslimin semakin memudahkan umat Islam melaksanakan dan menjaga shalat berjama’ah di masjid manapun.

Shalat berjama’ah memiliki keutamaan yang besar. Selisih pahala yang diraih 27 kali lipat dibanding shalat sendirian, mendapatkan doa malaikat, setiap ayunan langkah kaki dapat mengangkat derajat dan menghapuskan kesalahan-kesalahan, dan keutamaan-keutamaan lainnya.

عَنْ عَبْدِ اِللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: صَلَاةُ اْلجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ اْلفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً

Dari Abdullah bin Umar r.a. bahwa Rasulallah S.A.W. bersabda, ”Shalat berjama’ah itu lebih utama daripada shalat sendirian dengan selisih pahala dua puluh derajat.” (HR. Bukhori No.645 dan Muslim No.650)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لاَ يَزَالُ الْعَبْدُ فِى صَلاَةٍ مَا كَانَ فِى مُصَلاَّهُ يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ وَتَقُولُ الْمَلاَئِكَةُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ. حَتَّى يَنْصَرِفَ أَوْ يُحْدِثَ

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulallah S.A.W. bersabda, “Tidaklah seorang hamba yang sedang shalat dan tetap dalam tempat shalatnya menunggu pelaksanaan shalat melainkan malaikat mendoakan untuknya ‘Ya Allah ampunilah dia, ya Allah rahmatilah dia’ Sampai hamba tersebut pergi dari tempat shalat atau batal wudhunya.” (HR. Muslim)

Apabila seorang muslim tidak mendapati shalat jama’ah di satu masjid, dengan kata lain shalat jama’ah rutin telah selesai diirikan. Maka, dibolehkan baginya untuk mendirikan shalat jama’ah kedua di masjid tersebut menurut pendapat yang lebih tepat di antara pendapat-pendapat ulama.

رَوَى التِّرمِذِيُّ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ وَقَدْ صَلَّى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَيُّكُمْ يَتَّجِرُ عَلَى هَذَا؟ فَقَامَ رَجُلٌ فَصَلَّى مَعَهُ.

Imam al-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Saied, beliau barkata: Seseorand datang dan Rasulallah telah selesai melaksanakan shalat, maka beliau bersabda, “Siapakah di antara kalian yang mau berniaga dengan shalat lagi bersamanya?” Maka seseorang berdiri dan shalat berjama;ah bersama orang tersebut.”(HR. al-Tirmidzi, dan beliau berkata: Hadits hasan)

Hadits ini menunjukkan bolehnya mendirikan shalat berjama’ah ketika shalat jama’ah rutin telah selesai didirikan. Dibolehkan pula bagi orang yang sudah melaksanakan shalat berjama’ah untuk membantu orang yang tertinggal dengan shalat kembali bersamanya, kecuali memang yang tertinggal lebih dari satu. Maka, orang-orang yang tertinggal tersebut melaksanakan shalat secara berjama’ah agar tetap mendapatkan kedudukan shalat berjama’ah.

Imam al-Tirmidzi menjelaskan dalam kitab Sunan al-Tirmidzi bahwa banyak ulama dari kalangan sahabat nabi dan ulama dari kalangan tabi’in yang berpendapat bolehnya satu kaum mendirikan shalat jama’ah tatkala shalat jama’ah di masjid tersebut telah selesai didirikan. Imam Ahmad dan Imam Ishaq pun berpendapat demikian. Sebagian ulama yang lain berpendapat shalat sendiri-sendiri, ini merupakan pendapat Imam Sufyan, Ibnu al-Mubarak, Imam Malik, Imam as-Syafii, mereka memilih shalat sendiri-sendiri.

Di beberapa masjid, sering kali terjadi adanya dua shalat berjama’ah dalam satu masjid secara bersamaan. Biasanya terjadi setelah shalat jama’ah rutin masjid tersebut telah selesai didirikan. Pemandangan ini merupakan satu kesalahan yang tidak patut terjadi.

Para ulama yang tergabung dalam Lajnah Da’imah Lilbuhuts wa al-Ifta No.20242 menjelaskan bahwa tidak diperbolahkan mendirikan shalat jama’ah kedua dalam satu masjid sebelum selesainya shalat jama’ah pertama. Jika jama’ah shalat pertama telah selesai, maka tidak mengapa seseorang shalat dengan orang lain yang terlambat secara berjama’ah di masjid tersebut menurut pendapat yang tepat di antara pendapat para ulama. Akan tetapi tidak diperkenankan seseorang terbiasa mengakhirkan shalat karena kelalaian dan malas, kemudian ia shalat jama’ah semisal jama’ah pertama yang didirikan.”

Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz menjelaskan sebagaimana dalam kitab Majmu al-Fatawa beliau bahwa disyariatkan bagi seseorang yang terlambat shalat berjama’ah untuk melaksanakan bersama-sama dengan orang yang terlambat lainnya secara jama’ah. Jika terdapat dua shalat jama’ah dalam satu masjid, sedang ia tidak mengetahui jama’ah mana yang didirikan lebih dulu maka hendaknya ia memilih jamaah yang jumlahnya lebih banyak berdasarkan hadits:

صَلاَةُ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلاَتِهِ وَحْدَهُ وَصَلاَتُهُ مَعَ الرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلاَتِهِ مَعَ الرَّجُلِ وَمَا كَانَ أَكْثَرُ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللهِ تَعَالىَ

“Shalat seseorang yang dikerjakan bersama orang lain (berjama’ah) niscaya pahalanya lebih banyak daripada shalat sendirian, shalatnya seseorang yang dikerjakan bersama dua orang niscaya pahalanya lebih banyak daripada pahala shalatnya bersama seorang, dimana semakin banyak jumlah jama’ahnya niscaya semakin dicintai Allah Ta’ala.” (HR. Ahmad No.20759, Abu Dawud No.554, An-Nasai No.843 dan Ibnu hibban No.2056)

Syekh Muhammad ibn Shalih al-Utsaimin menjelaskan sebagaimana terdapat dalam Kitab al-Fatawa al-Tsalasiah dan Jalasat wa Fatawa, “Jika tidak mengetahui maka dipilih jama’ah yang jumlahnya banyak karena itu lebih afdhal. Bagi orang-orang yang mendirikan shalat jama’ah kedua, jika mereka mendirikannya karena tidak mengetahui keberadaan jama’ah pertama maka shalatnya sah. Adapun jika mereka sebenarnya mengetahui keberadaan jama’ah shalat, maka keabsahan shalatnya dipertanyakan, kecuali jika masjid tersebut memang tidak mempunyai imam tetap seperti masjid-masjid yang terdapat di jalan-jalan. Di masjid seperti ini, siapapun yang masuk dipersilahkan shalat. Akan tetapi tidak patut terdapat shalat dua shalat jamaah bersamaan dalam satu masjid.”

Dari penjelasan di atas, maka seseorang yang terlambat hendaknya melihat-lihat terlebih dahulu di sekitarnya atau bertanya kepada seseorang yang mengetahuinya. Apakah ada shalat jama’ah didirikan atau tidak ada. Jika ada, maka ia bergabung bersama mereka yang sudah mendirikan shalat berjama’ah. Jika tidak ada maka tidak mengapa ia mendirikan shalat jama’ah baru.

Sedangkan mendirikan shalat jama’ah sendiri, padahal jama’ah shalat masjid yang dipimpin imam rawatib masih berlangsung, maka ini tentu diharamkan.

روى الترمذي عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لاَ يُؤَمُّ الرَّجُلُ فِي سُلْطَانِهِ وَلاَ يُجْلَسُ عَلَى تَكْرِمَتِهِ فِي بَيْتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

Imam al-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Mas’ud bahwa Rasulallah S.A.W. bersabda, “Janganlah seseorang mengimami orang lain dalam wilayah kekuasaannya, dan janganlah pula ia duduk di rumah orang lain di tempat duduk tempat khususnya (kehormatannya) kecuali jika dizinkan olehnya.” (HR. al-Tirmidzi. Beliau berkata: Hadits hasan)

Berdasarkan hadits ini, maka imam rawatib shalat adalah yang berhak menjadi imam pada shalat yang didirikan di masjid tersebut. Tidak diperkenankan menjadi imam kecuali atas izin imam rawatib, terlebih membuat jama’ah shalat tandingan dari imam rawatib.

Demikian artikel tentang Hukum Dua Shalat Jama’ah Dalam Satu Masjid, semoga bermanfaat

Disusun oleh: Abu Mujahidah al-Ghifari, Lc., M.E.I.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comments links could be nofollow free.