Hukum Hukum Yang Berkaitan Tentang Shalat

hukum seputar shalat

Shalat merupakan ibadah yang teramat agung, ia merupakan amalan yang telah Allah perintahkan bagi hamba-Nya setelah ucapan dua kalimat syahadat. Karena begitu pentingnya perkara shalat, sampai-sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala menghukumi kafir bagi mereka yang sengaja meninggalkannya, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ تَرْكُ الصَّلَاةِ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“(Pemisah) di antara kami & mereka (orang kafir) adalah meninggalkan shalat, karenanya barangsiapa yg meninggalkannya maka sungguh dia telah kafir.” (HR. Ahmad no. 21929.

Oleh karena shalat merupakan ibadah yang agung, maka hendaknya kaum muslimin senantiasa menegakkannya dengan benar sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan berikut ini kami akan paparkan seputar hukum-hukum yang berkaitan dengan shalat.

Hukum Hukum Yang Berkaitan Tentang Shalat

A. Aturan-aturan yang dibolehkan.
  • Mengingatkan bacaan imam ketika tersamar atau keliru dalam membaca. (HR. Abu Dawud, Ibnu ‘Asakir, Ibnu Hibban dari Thobroni. Dishohihkan oleh al Albani)
  • Mengucapkan tasbih (subhanalloh) bagi laki-laki dan melakukan tasfhiq (menepuk tangan) bagi wanita apabila mengingatkan imam atau lainnya. (HR. Bukhori dan Muslim)
  • Membunuh ular atau kalajengking. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad)
  • Menghalangi orang yang lewat di hadapannya. (HR. Bukhori, Muslim, Abu Daud dan Ahmad)
  • Menjawab salam dengan isyarat (dengan menganggukkan kepala, isyarat telunjuk atau isyarat tangan). (HR. Muslim, Abu Dawud, Nasa’i dan Ahmad)
  • Menggendong anak kecil saat dia datang tiba-tiba di waktu sholat. (HR. Muslim)
  • Sedikit berjalan untuk sebuah keperluan selama tidak berpaling dari arah kiblat. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
B. Hal-hal yang dilarang dalam Sholat.
Yakni perkara-perkara yang disebutkan dalam nash-nash syariat tentang keharamannya atau kemakruhannya dalam sholat. Tetapi larangan-larangan ini (bila dilanggar) tidak membatalkan sholat dan hanya mengurangi nilai pahalanya, yaitu sebagai berikut:
  • Berkacak pinggang dalam sholat.
  • Memandang ke langit.
  • Melihat sesuatu yang dapat melalaikan sholat.
  • Menoleh tanpa ada keperluan.
  • Menguap dalam sholat. Menguap dalam sholat tidak boleh dibiarkan, tapi wajib dicegah dengan meletakkan tangan pada mulut.
  • Meludah ke arah kiblat atau ke sebelah kanan.
  • Memejamkan mata ketika sholat. Apabila itu dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Alloh , maka hal itu diharamkan, karena termasuk dalam perkara bid’ah. Apabila bukan itu maksudnya, maka hukumnya makruh, karena menyelesihi sunnah Rosululloh .
  • Membaca Al-Qur’an ketika ruku’ dan sujud.
  • Menghamparkan kedua hasta (di atas lantai) ketika sujud.
  • Menggulung pakaian (menggulung agar tidak terjuntai ke tanah) ketika sujud. Termasuk dalam kategori ini ialah menggulung ujung lengan baju.
  • Meletakkan kedua tangan di lantai ketika duduk dalam sholat, kecuali ada udzur.
  • Orang yang sakit sujud di atas sesuatu yang agak tinggi. Orang yang sakit jika mampu sujud di atas lantai, maka ia wajib melakukannya. Jika tidak sanggup, maka cukuplah dengan isyarat kepala saja. Tidak perlu meletakkan bantal atau sejenisnya pada tempat sujudnya.
  • Apabila ada kerikil atau tanah yang menempel di kening ketika sujud di tanah, maka makruh dibersihkan. Sebab aktifitas ini dapat mengganggu sholat, apalagi jika dilakukan berkali-kali. Apabila tanah yang melekat tersebut dapat mengganggu sholat, maka harus dibersihkan. Wallohu ‘alam.
  • Memberi isyarat ke kiri dan ke kanan dengan kedua tangan pada saat mengucapkan salam. Isyarat ini banyak dikerjakan oleh orang-orang awam, baik laki-laki maupun wanita, padahal perbuatan ini terlarang dalam sholat.
  • Mendahului imam dalam gerakan sholat.
  • Sholat ketika makanan sudah terhidangkan, atau sholat dengan menahan buang air kecil dan buang air besar.
C. Hal-hal yang Membatalkan Sholat.
  • Yakin berhadats yang membatalkan wudhu.
  • Meninggalkan salah satu syarat atau salah satu rukun sholat dengan tanpa udzur.
  • Makan dan minum dengan sengaja.
  • Berbicara dengan sengaja bukan untuk kemaslahatan sholat.
  • Barangsiapa berbicara dalam sholat karena lupa atau tidak tahu hukumnya, maka sholatnya tidak batal.
  • Tertawa yang disertai dengan suara. Ini membatalkan sholat, menurut ijma’, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Mundzir. Sebab tertawa itu lebih keji daripada berbicara, karena ini berarti melecehkan dan memainkan sholat.
D. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam sholat berjama’ah
  • Makmum Sendirian harus berdiri persis di sebelah kanan imam (sejajar dengannya). (Shahih: Irwa-ul Ghalil, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah)
  • Makmum dua orang atau lebih berdiri dengan membuat shaf di belakang imam. (Shahih: Irwa-ul Ghalil, Muslim, ‘Aunul Ma’bud dan Ibnu Majah)
  • Jika makmum seorang perempuan harus berdiri di belakang imam. (Muttafaqun ‘alaih, ‘Aunul Ma’bud dan Nasa’i)
  • Kewajiban meluruskan shaf.
  • Wajib bagi sang imam untuk tidak memulai sholatnya sebelum mengontrol shaf, yaitu ia sendiri menyuruh jama’ah meluruskan shaf atau menunjuk seseorang yang meluruskan shaf. (Muttafaqun ‘alaih, ‘Aunul Ma’bud dan Ibnu Majah)
  • Cara Meluruskan shaf.
  • Nabi bersabda, “Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguh-nya aku melihat kalian dari belakang punggungku. Dan adalah seorang di antara kami menempelkan bahunya dengan bahu saudaranya, dan kakinya dengan kaki saudaranya.”(HR. Bukhori)
  • Shaf laki-laki dan perempuan.
  • Sebaik-baik shaf laki-laki adalah shaf yang pertama dan yang paling jelek adalah shaf yang terakhir. Dan sebaik-baik shaf perempuan adalah yang paling akhir dan shaf yang paling jelek adalah yang terdepan. (Shahihul Jami’us Shagir, Muslim, ‘Aunul Ma’bud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah)
  • Makmum yang lebih pantas berdiri di belakang imam.
  • Hendaklah yang berada di belakang imam adalah orang-orang yang sudah dewasa dan matang pikirannya, kemudian yang sesudah mereka, lalu sesudah mereka. (HR. Abu Dawud, Muslim, Aunul Ma’bud, Ibnu Majah dan Nasa’i)
  • Makruh shaf yang dihalangi tiang.
  • Pada masa Rosululloh sahabat dilarang membentuk shaf yang dihalangi tiang dan sahabat dijauhkan darinya sejauh-jauhnya. (Shahih Ibnu Majah, Mustadrak Hakim, dan Baihaqi)
  • Larangan di atas berlaku pada sholat jama’ah, adapun sholat sendirian, maka tidak mengapa seorang sholat di antara beberapa tiang sebagai sutrah baginya. (Shahih Bukhori)

Semoga artikel mengenai Hukum Hukum Yang Berkaitan Tentang Shalat bermanfaat dan semoga Allah hindarkan kita dari hal-hal yang dapat melalaikan kita dari shalat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comments links could be nofollow free.