Hukum Onani Dalam Pandangan Islam

onanisme dalam islam

Hukum Onani Dalam Pandangan Islam.

Pada saat ini banyak remaja yang terjerumus dalam gejolak syahwat, pergaulan bebas dan berbagai kenakalan remaja yang disebabkan pengaruh negatif dari pergaulan bebas dan intensitas media yang telah meracuni pemikiran para remaja , khususnya remaja muslim di Indonesia. Dampak dari keduanya salah satunya menyebabkan remaja mulai berani menyalurkan hasrat biologisnya melalui pacaran ataupun pelampiasan kepuasan terhadap diri sendiri melalui jalan masturbasi atau onani.

Lalu, bagaimana hukum onani dalam pandangan Islam?, untuk menjawabnya, mari kita mengkaji dalil-dalil tentang hal tersebut, onani / masturbasi hukumnya haram dikarenakan merupakan istimta’ (meraih kesenangan/ kenikmatan) dengan cara yang tidak Allah Subhanahu wa Ta’ala halalkan. Allah tidak membolehkan istimta’ dan penyaluran kenikmatan seksual kecuali pada istri atau budak wanita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

Yang artinya : “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. [QS Al Mu’minuun: 5 – 6].

Adapun permasalahan onani/masturbasi (istimna’) adalah permasalahan yang telah dibahas oleh para ulama. Onani adalah upaya mengeluarkan mani dengan menggunakan tangan atau yang lainnya. Hukum permasalahan ini ada rinciannya sebagai berikut:

Hukum Onani Dalam Pandangan Islam

  1. Onani yang dilakukan dengan bantuan tangan/anggota tubuh lainnya dari istri atau budak wanita yang dimiliki. Jenis ini hukumnya halal, karena termasuk dalam keumuman bersenang-senang dengan istri atau budak wanita yang dihalalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikian pula hukumnya bagi wanita dengan tangan suami atau tuannya (jika ia berstatus sebagai budak). Karena tidak ada perbedaan hukum antara laki-laki dan perempuan hingga tegak dalil yang membedakannya. Wallahu a’lam.
  2. Onani yang dilakukan dengan tangan sendiri atau semacamnya. Jenis ini hukumnya haram bagi pria maupun wanita, serta merupakan perbuatan hina yang bertentangan dengan kemuliaan dan keutamaan. Pendapat ini adalah madzhab jumhur (mayoritas ulama), Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu, dan pendapat terkuat dalam madzhab Al-Imam Ahmad rahimahullahu. Pendapat ini yang difatwakan oleh Al-Lajnah Ad-Da’imah (yang diketuai oleh Asy-Syaikh Ibnu Baz)

Adapun onani termasuk dalam keumuman mencari kenikmatan syahwat yang sifatnya melanggar batasan syariat yang dihalalkan, yaitu di luar kenikmatan suami-istri atau tuan dan budak wanitanya.

Dari penjelasan di atas tentang hukum onani dalam pandangan Islam, Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi petunjuk kepada para pemuda agar menikah untuk menjaga pandangan dan kemaluannya, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya :

Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu menikah, maka hendaklah dia menikah karena nikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Sedang barangsiapa yang belum mampu maka hendaknya dia berpuasa karena puasa itu akan menjadi tameng baginya”. [Hadits Riwayat Bukhari 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas’ud].

Nah jika tidak mampu untuk menikah, maka dianjurkan untuk memperbanyak puasa, karena berpuasa dapat menahan dirinya dari kemaksiatan. Dan hendaknya para remaja atau pemuda menjauhi dari sarana-sarana yang dapat meningkatkan syahwat seperti berduaan dan menonton film yang dapat menimbulkan syahwat serta para remaja atau pemuda perbanyaklah kegiatan-kegiatan positif seperti mengikuti halaqoh Isla, Kajian dan sebagainya.

Demikianlah artikel tentang hukum onani dalam pandangan Islam, semoga artikel ini menambah keilmuan dan keimanan kita serta menjauhkan diri kita dari terjerumus dalam kemaksiatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comments links could be nofollow free.