Hukum Shalat Witir Beserta Penjelasan Lengkapnya

hukum shalat witir

Mengerjakan shalat witir disetiap malamnya adalah bagian dari sunnah Rasululloh Shallallahu a’alihi wa Sallam yang sangat ditekankan, namun sayangnya sebahagian kaum muslimin mulai melupakannya bahkan sengaja meninggalkannya lantaran belum memahami betul tentang hukum shalat witir sehingga mereka hanya menganggap shalat witir adalah shalat sunnah pada umumnya yang tidak ditekankan, padahal Rasulullah Shallallahu a’alihi wa Sallam tidak pernah meninggalkannya.

Menurut Jumhur ulama Hukum shalat witir adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat ditekankan, sedangkan syaikul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat shalat witir ini wajib bagi siapa yang memilki kebiasaan melakukan qiyamulail(shalat malam), tapi yang jelas mayoritas ulama berpendapat bahwa shalat witir hukumnya adalah sunnah muakkadah yaitu shalat sunnah yang sangat ditekankan dan tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah Shallallahu a’alihi wa Sallam dan juga oleh para sahabatnya yang mulia.

Hukum Shalat Witir Beserta Penjelasan Lengkapnya

Hukum Shalat Witir Beserta Penjelasan Lengkapnya

Adapun waktu shalat witir ini adalah antara shalat Isya hingga terbit fajar, jadi setelah seseorang selesai shalat Isya dan shalat sunnah 2 rakaat ba’diyah maka mulai dari sinilah shalat witir hingga terbit fajar sodik yaitu hingga datangnya waktu subuh. Beberapa anjuran dari Rasulullah Shallallahu a’alihi wa Sallam tentang shalat witir atau tentang hadist hadist yang berkaitan dengan shalat witir yang dapat menjadi acuan adalah:

  1. Sabda Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْوِتْرُ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلاَثٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ

Witir adalah sebuah keharusan bagi setiap muslim, barang siapa yang hendak melakukan witir lima raka’at maka hendaknya ia melakukankannya dan barang siapa yang hendak melakukan witir tiga raka’at maka hendaknya ia melakukannya, dan barang siapa yang hendak melakukan witir satu raka’at maka hendaknya ia melakukannya.” (HR. Abu Daud no. 1422. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

  1. Hadits Ibnu ‘Umar, Rasulullah Shallallahu a’alihi wa Sallam bersabda:

اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرً

Jadikanlah akhir shalat malam kalian adalah shalat witir.” (HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751)

Adapun waktu shalat witir yang mustahab yang paling disukai adalah waktu di sepertiga malam terakhir, hal ini berdasarkan hadist ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan:

مِنْ كُلِّ اللَّيْلِ قَدْ أَوْتَرَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَأَوْسَطِهِ وَآخِرِهِ فَانْتَهَى وِتْرُهُ إِلَى السَّحَرِ.

“Kadang-kadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan witir di awal malam, pertengahannya dan akhir malam. Sedangkan kebiasaan akhir beliau adalah beliau mengakhirkan witir hingga tiba waktu sahur.”(HR. Muslim no. 745).

dan disunnahkan shalat witir ini dijadikan penutup shalat malam, sebagaimana Hadits Ibnu ‘Umar :

اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرً

Jadikanlah akhir shalat malam kalian adalah shalat witir.” (HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751)

Jika seseorang yakin akan bangun diakhir malam maka disunnahkan untuk mengakhirkan witir hingga akhir malam tapi barangsiapa yang khawatir tidak terbangun diakhir malam maka hendaknya melaksanakan witir diawal malam, sebagaimana hadist dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada Abu Bakr As-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, ‘Kapan kamu witir?’ ‘Di awal malam, setelah shalat Isya.’ jawab Abu Bakr. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Umar: ‘Kapan kamu witir?’ ‘Di akhir malam.’ Jawab Umar. Lalu beliau bersabda,

أَمَّا أَنْتَ يَا أَبَا بَكْرٍ، فَأَخَذْتَ بِالْوُثْقَى، وَأَمَّا أَنْتَ يَا عُمَرُ، فَأَخَذْتَ بِالْقُوَّةِ

“Untuk anda wahai Abu Bakr, anda mengambil sikap hati-hati. Sementara kamu Umar, mengambil sikap sungguh-sungguh.” (HR. Ahmad 14535, Ibn Majah 1202, dan dinilai hasan shahih oleh Al-Albani).

Bila seseorang yang telah melakukan shalat witir sebelum tidur kemudian dia terbangun diakhir malam boleh melakukan shalat sunnah lagi yaitu tahajjud dan bolehkah dia mengulangi shalat witirnya atau cukup satu kali saja?  Jawabanynya adalah siapa saja yang shalat witir sebelum tidur kemudian dia terbangun diakhir malam maka jumhur ulama berpendapat dibolehkan baginya shalat sunnah beberapa rakaat saja dan tidak mengulang witirnya, jadi seorang yang telah shalat witir kemudian tertidur kemudian bangun di malam hari, maka dibolehkan untuk shalat sunnah tahajjud dan tidak perlu mengulang shalat witirnya. Adapun dibolehkan shalat sunnah setelah shalat witir, hal ini berdasarkan hadist yang diriwayatkan ‘Aisyah  radhiyallahu ‘anha :

“ Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam salam dari shalat witir kemudian dia shalat dua rakaat dalam keadaan duduk ‘’ ( HR.Muslim ).

Abu Bakr As-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, pernah mengatakan,

أما أنا فإني أنام على فراشي ، فإن استيقظت صليت شِفْعًا حتى الصباح

“Untuk saya, saya tidur dulu, jika saya bangun, saya akan shalat 2 rakaat – 2 rakaat, sampai subuh.” (HR. Al-Atsram, disebutkan oleh Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, 2/120)

Adapun tidak bolehnya mengulang shalat witir, jadi cukup satu kali saja, hal ini diperkuat oleh hadist hadis dari Thalq bin Ali radhiyallahu ‘anhu, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:

 “Tidak boleh melakukan 2 kali witir dalam satu malam.” (HR. Ahmad 16296, Nasai 1679, Abu Daud 1439, dan dihasankan Syuaib Al-Arnauth).

Kata witir itu sendiri bermakna ganjil, sehingga  jumlah rakaat shalat witir adalah ganjil yaitu boleh dilaksanakan 1 rakaat saja, atau 3 rakaaat saja, atau 5 rakaat, atau 7 rakaat atau 9 rakaaat,  minimal satu rakaat dan maksimal sembilan rakaat. Adapun jumlah shalat witir satu rakaat, maka dibolehkan menurut jumhur ulama, dalilnya:

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً ، تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu shubuh, hendaklah ia shalat satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalat yang telah dilaksanakan sebelumnya.” (HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749, dari Ibnu ‘Umar).

Dianjurkan juga membaca doa qunut di dalam shalat witir dan berdoa, sebagaimana doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Hasan radhiyallahu ‘anhu. Dari ayahnya Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma berkata ;

اللَّهُمَّ اهْدِنِى فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِى فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِى فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِى شَرَّ مَا قَضَيْتَ فَإِنَّكَ تَقْضِى وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

Allahummahdiini fiiman hadait, wa’aafini fiiman ‘afait, watawallanii fiiman tawallait, wabaarik lii fiima a’thait, waqinii syarrama qadlait, fainnaka taqdhi walaa yuqdho ‘alaik, wainnahu laa yadzillu man waalait, tabaarakta rabbana wata’aalait. (Ya Allah, berilah aku petunjuk di antara orang-orang yang Engkau beri petunjuk, dan berilah aku keselamatan di antara orang-orang yang telah Engkau beri keselamatan, uruslah diriku di antara orang-orang yang telah Engkau urus, berkahilah untukku apa yang telah Engkau berikan kepadaku, lindungilah aku dari keburukan apa yang telah Engkau tetapkan, sesungguhnya Engkau Yang memutuskan dan tidak diputuskan kepadaku, sesungguhnya tidak akan hina orang yang telah Engkau jaga dan Engkau tolong. Engkau Maha Suci dan Maha Tinggi)” (HR. Abu Daud no. 1425, An Nasai no. 1745, At Tirmidzi no. 464. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Demikianlah, semoga setelah membaca artikel tentang hukum shalat witir beserta penjelasan lengkapnya semakin memberikan motivasi yang kuat bagi kaum muslimin untuk menghidupkan sunnah tersebut. Wallohu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comments links could be nofollow free.