Tuntunan Berqurban Sesuai Sunnah

qurban sesuai sunnah

Tuntunan Berqurban Sesuai Sunnah. Salah satu ibadah pada hari raya Idul Adha adalah penyembelihan hewan kurban. Dalam bahasa arab, kurban disebut dengan (الأُضْحِيَّةُ)atau (الضَّحِيَّةُ) yang berarti setiap hewan yang disembelih seperti onta, sapi dan kambing pada hari raya idul adha atau selama hari tasyriq.

Tujuan dari pelaksanaan penyembelihan hewan kurban adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, sebagai bentuk ketaatan dan rasa syukur kepada-Nya. Hikmah disyariatkannya kurban adalah salah satu bentuk taqarub kepada Allah Ta’ala, menghidupkan sunnah yang mulia Nabi Ibrahim alaihisalam, sebagai bentuk solidaritas membantu sesama ummat manusia khususnya fakir miskin pada hari raya idul adha, dan termasukmenggagungkan syiar Islam.

Tuntunan Berqurban Sesuai Sunnah

 

Tuntunan Berqurban Sesuai Sunnah

Imam Ibn Qudamah berkata, “Dasar disyariatkannya kurban adalah berdasarkan al-Qur’an, al-Sunnah dan ijma’… Kaum muslimin telah berijma’ atas disyariatkannya penyembelihan hewan kurban.” (al-Mughni 13/360)

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu al-Kautsar. Maka dirikanlah shalat karenaRabbmu; dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.”

 

Menurut Qatadah, Atha’ dan ‘Ikrimah bahwa yang dimaksud dalam QS. al-Kautsar ayat 2 adalah shalat ied dan penyembelihan hewan kurban. Sedangkan ibn Abbas berpendapat: shalat wajib dan menyembelih hewan kurban pada hari raya idul adha. (Fath al-Qadir)

رَوَى اْلبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ: ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا.

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas, beliau berkata, “Nabi sahallallahu ‘alaihi wasallamberkurban dengan dua ekor kambing yang bertanduk dan gemuk. Beliau menyembelihnya sendiri seraya menyebut nama Allah dan bertakbir.”

Mayoritas ulama berpendapat bahwa hukum penyembelihan hewan kurban adalah sunnah mu’akadahbukan wajib, yaitu sunnah yang ditekankan tapi tidak sampai pada derajat wajib. Imam Ahmad, Rabi’ah dan Abu al-Zinad menganggap bahwa penyembelihan hewan kurban itu lebih utama dibanding dengan sedekah.

Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah berkata, “Berkurban lebih baik dari bersedekah sebanyak nilai hewan kurban tersebut. Bagi yang punya harta dan ingin mendekatkan diri pada-Nya silahkan berkurban.”(Majmu’ al-Fatawa)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjelaskan salah satu keutamaan ibadah penyembelihan hewan kurban sebagaimana dalam sunan al-Tirmidzi.

رَوَى التِّرْمِذِيُّ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ، إِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلاَفِهَا ، وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ ، فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا.

Al-Timidzi meriwayatkan dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda “Tidak ada amalan yang diperbuat manusia pada hari raya qurban yang lebih dicintai oleh Allah selain menyembelih hewan. Sesungguhnya hewan qurban itu kelak pada hari kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulu dan kuku-kukunya. Sesungguhnya sebelum darah qurban itu mengalir ke tanah, pahalanya telah diterima di sisi Allah. Maka tenangkanlah jiwa dengan berqurban.” (HR. Al-Tirmidzi)

Adapun jenis hewan yang bisa dijadikan hewan kurban adalah onta, sapi dan kambing. Sayyid Sabiq menjelaskan, “Hewan kurban berupa domba yang dianggap layak adalah yang sudah berumur setengah tahun, kambing berumur satu tahun, sapi berumur dua tahun, dan onta berumur lima tahun. Semua hewan ini tidak dibedakan antara jantan dan betina, semuanya sama.” (Ringkasan Fikih Sunnah Sayyid Sabiq, Hlm.861)

Allah Ta’ala berfirman:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka.”

Muslim meriwayatkan dari Jabir bahwa Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kalian berkurban kecuali dengan hewan yang sudah berumur (musinnah). Jika itu menyulitkanmu, sembelihlah domba yang jadza’.” (HR. Muslim)

Yang dimaksud dengan musinnah adalah onta yang berumur lima tahun atau lebih, sapi yang berumur dua tahun atau lebih, kambing yang berumur satu tahun atau lebih, dan domba yang berumur enam bulan atau lebih. Hewan ternak yang dijadikan kurban tidak diperbolehkan hewan yang dijadikan kurban memiliki cacar seperti, sakit dan penyakitnya nampak jelas, picak, pincang, dan hewan yang sangat kurus sebagaimana telah ditetapkan dalam hadits dalam masalah ini.

Bagi seseorang yang berkurban, lebih baik penyembelihannya dilakukan sendiri karena menyembelih kurban dimaksudkan ibadah. Adapun waktu pelaksanaan penyembelihan hewan kurban dilaksanakan setelah terbitnya matahari para hari raya idul adha selama hari tasyriq, baik pada waktu malam maupun siang.

رَوَى اْلبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَإِنَّمَا ذَبَحَ لِنَفْسِهِ ، وَمَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas ibn Malik radhiallahu anhu, beliau berkata: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menyembelih sebelum shalat (idul adha), maka sembelihannya untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa menyembelih sesudah shalat dan dua khutbah, maka sungguh dia telah menyempurnakan dan sesuai dengan sunnah kaum muslimin.”

Hendaknya membaca Bismillah Allahu Akbar pada saat hendak menyembelih hewan kurban dengan menggunakan alat sembelihan yang terbaik, yaitu tajam tidak tumpul sebagai bentuk berbuat ihsan/ baik terhadap hewan. Sedangkan cara yang terbaik dalam menyembelih kambing adalah dengan dibaringkan di atas lambung kiri agar lebih mudah. Dalam menyembelih hendaknya meletakkan kaki kiri di leher hewan kurban agar tidak memberontak dan lekas mati. (Lihat, Fikih Hadits Bukhari Muslim, Hlm.1109-1110)

Syaikhul Islam menjelaskan bahwa hewan kurban disedekahkan sepertiganya dan dihadiahkan sepertiganya lagi. Namun boleh juga memakan sebagia besarnya, atau menghadiahkannya, atau memasaknya lalu mengundang orang-orang. (Lihat, Majmu’ al-Fatawa 36/306)

Seekor kambing cukup untuk kurban satu keluarga, dan pahalanya mencakup seluruh anggota keluarga meskipun jumlahnya banyak. Seekor sapi dijadikan qurban untuk tujuh orang. Sedangkan seekor onta untuk sepuluh orang.

رَوَى مُسْلِمٌ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: نَحَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْحُدَيْبِيَةِ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ

Muslim meriwayatkan dari Jabir ibn Abdullah, bahwa beliau berkata “Kami berkurban bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di tahun Hudaibiyah, unta untuk tujuh orang dan sapi untuk tujuh orang.”

Abu Ayyub radhiallahu ’anhu yang mengatakan, Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamseseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya.” (HR. Al-Tirmidzi)

Demikianlah penjelasan singat terkait dengan fikih kurban. Semoga bermanfaat untuk penyusun dan kaum muslimin. Allahuma amin

Disusun oleh: Abu Mujahidah al-Ghifari, Lc., M.E.I.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comments links could be nofollow free.