Kejujuran Dalam Perspektif Islam

kejujuran dalam islam

Kejujuran dalam islam atau dikenal dengan istilah As-Shidqu ialah kesesuaian pembicaraan dengan kenyataan menurut keyakinan orang yang berbicara, As-Sidqhu ini kebalikan dari Al-Kadzibu (bohong). Ada yang mengatakan As-Shidqu ialah kesesuaian ucapan hati dengan sesuatu yang dikabarkan (dhahirnya) secara bersamaan, jika salah satu syarat tersebut hilang maka tidak dinamakan jujur secara sempurna. As-Sidqhu ini memiliki keutamaan yang agung, pahala yang besar/banyak, serta kedudukan yang mulia. Jujur dan benar di antara bagian dari Ash-Shidu. Dan bukti dari keutamaan Sidqhu, ketinggian kedudukannya, serta kemuliaan derajatnya ialah:

Sesungguhnya As-Sidqhu menjadi ciri khas ahlul ilmi dan takwa. Alloh ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang sidiqin (benar), laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Alloh, Alloh Telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”.(QS. Al-Ahzab: 35).

Maka barang siapa yang memiliki seluruh sifat yang agung ini, bahkan telah menjadi pakaian dan perhiasannya maka benar-benar ia telah beruntung. Kita berdoa kepada Alloh ta’ala semoga Dia menjadikan kita termasuk dari mereka.

Alloh ta’ala telah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin agar terus bersama orang-orang yang jujur (shiddiqin) dan menetapi kejujuran dalam setiap keadaannya. Kejujuran adalah jalan keselamatan dari kehidupan dunia dan adzab akhirat. Alloh ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang sidiqin”. (QS. At-Taubah: 119).

Termasuk bukti keutamaan kejujuran dan orang-orang yang benar adalah jeleknya tempat kembali bagi para pembohong, dan sesungguhnya bohong adalah bagian dari sifat orang munafik Naudzu billahi.

Dalam shahih Bukhari dan Muslim disebutkan, dari Abdullah bin Amrradhiyallahu’anhu bahwasanya Nabi sholallohu alaihi wassalam bersabda: “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, apabila berbicara selalu bohong, jika berjanji menyelisihi, dan jika dipercaya khianat”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat yang lain di sebutkan: “Empat perkara, barang siapa dalam dirinya terdapat hal itu maka dia adalah orang munafik tulen, dan barang siapa yang memiliki salah satu darinya, berarti dalam dirinya terdapat sifat orang munafik hingga ia meninggalkannya… (kemudian di sebutkan diantaranya, yaitu; bohong)”.(HR. Bukhari dan Muslim).

Kejujuran Dalam Islam

Jujur dalam islam adalah jalan Al-Bir (kebaikan) dan jalan surga, demikian juga sebaliknya bohong adalah jalan kedzaliman dan neraka –Naudzubillahi-. Dalam shahih Bukhori dan Muslim di sebutkan, dari Nabi sholallohu alaihi wassalam beliau bersabda:“Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan menunjukkan kepada surga, dan sesungguhnya seorang laki-laki benar-benar telah jujur hingga ia di catat di sisi Allah sebagai orang jujur. Sesungguhnya kebohongan itu menunjukkan kepada kedzaliman. Dan sesungguhnya kedzaliman itu menunjukkan kepada neraka, dan sesungguhnya seorang laki-laki telah berbuat dusta hingga ia I catat disisi Allah sebagai pendusta”.

Medan Kejujuran

Medan perbuatan jujur yang paling utama ada tiga, yaitu:

  1. Jujur dalam niat, yakni kemurnian niat dan benarnya azimah / tekad, dan tetapnyairodah / kehendak.
  2. Benar dalam ucapan yakni hanya mengucapkan kebenaran dan membuang kebatilan, laghwu dan lahwu (sia-sia dan tiada guna) yang diharamkan.
  3. Benar dalam amal yakni dengan menyesuaikan ucapan dengan perbuatan, sedang persesuaiannya adalah dengan petunjuk Kitabullah dan Sunnah Rasulullah sholallohu alaihi wassalam.

Kapan saja seorang hamba mampu merealisasikan kejujuran dalam ketiga medannya (yang tersebut diatas) dengan sempurana dan paripurna maka dia tercatat sebagai bagian orang-orang yang jujur (shiddiqin), dan kehidupan dunia ketika itu baginya tidak lain hanya sebatas apa yang diraih oleh seorang musafir, dan hanya sesuatu yang sudah menjadi milik manusia / berada ditangan mereka.

Berikut ini akan kami bahas ketiga medan jujur tersebut dengan secara rinci :

  • Benar/jujur dalam niat dan kehendak (tujuan). Benar dalam niat dan tujuan menuntut keikhlasan niat hanya karena Allah ‘azzawajall, niat dalam berdakwah dan dalam seluruh ketaatan dan pendekatan diri kepada-Nya. Janganlah seseorang melakukan ibadah untuk mencari kedudukan, pujian atau pangkat dan derajat. Kapan saja noda-noda niat ini masuk dalam dirinya maka keluarlah ikhlas darinya yang menjadi syarat diterimanya sebuah amal, tetapi sebaliknya, kapan saja kejujuran dalam niat dan tujan telah terealisasikan dan keikhlasan telah diwujudkan, maka hal itu akan membuahkan tekad yang benar dan kehendak (iradah) yang lurus, dan jadilah seseorang yang benar dan jujur, tidak memperlambat dalam melaksanakan tugas mentransfer kebenaran dan kebaikan kepada manusia dengan ikhlas hanya mencari ridho Alloh dan negeri akhirat, dia akan terus belajar dan senantiasa mencari kebenaran dan kejujuran dimanapun ia berada.
  • Jujur dalam ucapan. Jujur dalam ucapan ini menuntut seseorang agar tidak mengatakan kebatilan apapun bentuknya, baik itu dusta, mencacat, mencela, nelaknat, ucapan keji, ghibah, namimah (menyebar isu), ataupun ucapan dusta. Dan secara global, seorang muslim adalah manusia yang paling jauh dari bahaya-bahaya lisan, dan memang seperti inilah hakekat kehidupan muslim sejati.
  • Sedangkan jujur dalam amal ialah menyesuaikan perkataan dan perbuatan kepada kebenaran yang di serukan. Dan bahasan ini telah dijelaskan dalam mabhats beramal dengan ilmu.

PENGARUH KEJUJURAN DI MASYARAKAT.

Jujur banyak menyimpan pengaruh yang baik dalam kehidupan social masyarakat, diantaranya ialah:

  • Bukan hal yang samar lagi bahwa kejujuran memiliki pengaruh yang dalam bagi perjalanan hidup seorang muslim, perangainya, dialeknya, dorongan perasaannya, semua itu akan berbekas pada orang-orang disekitarnya, dan meninggalkan kesan yang dalam terhadap kebenaran pemikiran dan prilakunya..

Nabi sholallohu alaihi wassalam selalu berbicara dengan orang-orang yang ditemuinya, beliau bersabda: “Demi Allah hal ini bukanlah suatu kebohongan dan bukan pula pembicaraan yang dusta”. Maka seorang muslim yang emncintai Rosululloh dituntut agar jujur dalam pembicaraan, perbuatan dan niat.

  • Jujur menyimpan pengaruh yang baik dalam menjinakkan hati, tolong menolong, berkasih sayang dan mengikat hati, sebaliknya kebohongan akan menanamkan kedengkian, menghapus kepercayaan dan menumbuhkan keraguan sebagai akibat dari tindakan berpura-pura dan tidak tetap yang senantiasa telah menjadi karakter para pembohong. Dari sini, maka tuntutan kejujuran ialah meninggalkan seluruh bahaya lisan, seperti meremehkan orang lain baik dengan isyarat maupun ucapan, menyebar isu bohong, dan banyak bertanya yang tidak ada manfaatnya. Ketika hati telah terpaut, bersih dan menyatu dalam mahabbatullah, maka ketika itu nasehat-menasehati mampu berjalan dalam masyarakat sebagaimana aliran air dalam tanaman, yang selanjutnya akan menumbuhkan kehidupan, perkembangan dan kelanggengan. Dan akan tumbuh pula dalam bangunan masyarakat itu pohon iman yang tali temalinya terikat kuat dan bendera kejayaannya akan berkibar tinggi.
  • Kejujuran akan menanamkan kepercayaan dalam jiwa, ketentraman, kelapangan dan kasih sayang (kelemah lembutan), sehingga manusia menjadi bergantung kepada para da’i yang jujur dan benar (niatnya), mereka mempercayainya, dan merasa aman disisinya. Ikatan yang kuat ini, yang terjalin antara sesama muslim adalah faktor utama bagi kesuksesan sebuah dakwah, dan yang demikian itu tidak akan terwujud kecuali dengan kejujuran. Berbeda dengan kedustaan yang menanamkan dalam jiwa benih-benih keraguan, kekurangan kepercayaan, dan kewaspadaan. Maka akhlak pendusta bukanlah sesuatu yang disukai oleh manusia dan dianggapbaik oleh mereka.

Selagi manusia telah percaya pada seorang seseorang karena kejujurannya maka mereka akan membuka hati untuknya, dan mereka mau mendengarkan pembicaraannya, dan menerima wejangan, nasehat, petunjuk dan penjelasan yang diberikan olehnya, mereka juga akan berbondong-bondong menemuinya untuk bertanya (tentang masalah yang dihadapinya) dan meminta fatwa kepadanya. Tercapainya hubungan antara da’i dan mereka (mad’u) adalah nikmat yang tidak bisa diukur dengan harga apapun, dan tidak bisa diraih kecuali dengan keutamaan Allah, kemudian dengan kejujuran, bersihnya dada, dan keburukan amal (perbuatan) dan akhlak.

JANJI ALLOH TERHADAP ORANG-ORANG YANG JUJUR.

  • Menjadi pendamping para Nabi alaihimus salaam

Firman Alloh;Artinya:”Dan barangsiapa yang mentaati Alloh dan Rosul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Alloh, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholeh, mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya”. (QS. An-Nisaa’ [4]: 69)

  • Memasukkannya ke Surga.

Rosululloh sholallohu alaihi wassalam bersabda:

(( عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى البِرِّ، وَإِنَّ البِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يُصَدقُ وَيَتَحَّرَى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا ))

“Hendaklah kalian (berbuat) jujur!. Sesungguhnya jujur menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan menunjukkannya ke Surga. Dan senantiasa seorang (berbuat) jujur dan menjaga kejujurannya hingga ditulis disisi Alloh sebagai Ash-Shiddiq (orang yang jujur).(HR. Muslim: 4721)

  • Menenangkan hati.

Hasan Bin Ali rodhiallohu anhuma berkata:

حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَالَا يَرِيْبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِيْنَةٌ، وَ الكَذْبُ رِيْبَةٌ ))

“Aku hafal dari Rosululloh sholallohu alaihi wassalam: “Tinggalkanlah perkara yang meragukanmu kepada perkara yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran adalah ketenangan, dan bohong adalah kecemasan”. (lihat Shohih Jami’: 3377)

  • Membuat niat lebih besar.

Rosululloh sholallohu alaihi wassalam bersabda:

(( مَنْ سَأَلَ اللهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ، بَلَّغَهُ اللهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ ))

“Barangsiapa meminta kepada Alloh mati syahid dengan jujur, Alloh angkat dia ketingkatan orang-orang yang syahid”. (HR. Muslim: 1773)

  • Mendapatkan berkah.

(( البَيْعَانِ بِالخِيَارِ مَالَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَ بَيَّنَا بُوْرِكَ لَهُمَا فِيْ بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَتَمَا وَ كَذَّبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا ))

“Penjual dan pembeli (memiliki) pilihan sebelum mereka berdua berpisah, jika berdua berkata jujur dan menjelaskan (kekurangannya) maka diberkahi jual beli mereka. Dan jika berdua menyembunyikan (kekurangan) dan berbohong maka dihapus keberkahan jual beli mereka berdua”.(HR. Bukhori: 1937)

 

MACAM-MACAM KEJUJURAN

Ibnu Qoyyim rohimahulloh berkata: “Jujur tiga (macam): perkataan, perbuatan dan keadaan”.

  1. Jujur dalam perkataan: lurusnya lisan pada perkataan seperti lurusnya tangkai diatas pangkalnya.
  2. jujur dalam perbuatan: lurusnya perbuatan-perbuatan diatas perintah dan Ittiba’ seperti lurusnya kepada diatas badan.
  3. Jujur dalam keadaan: lurusnya perbuatan hati dan anggota badan diatas keikhlasan.

 

PENGARUH JUJUR TERHADAP KEKUATAN IMAN DAN KEBANGKITAN UMMAT.

Jujur adalah salah satu tanda keimanan, petunjuk kuat adanya iman dalam hati pelakunya, bukti murni atas kehidupannya. Tidak ada seorang muslim naik ketingkatan jujur kecuali hal itu baik baginya dan mewajibkan pujian dan pahala yang besar.

Alloh ta’ala berfirman:

Artinya:”Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang Telah mereka janjikan kepada Alloh; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya). Supaya Alloh memberikan balasan kepada orang-orang yang benar (jujur) itu Karena kebenarannya (kejujurannya), dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima Taubat mereka. Sesungguhnya Alloh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab [33]: 23-24)

Ayat ini turun pada Anas bin Nadhor. Diriwayatkan dalam Bukhori dan Muslim dari Anas bin Malik, dia berkata: pamanku Anas bin Nadhor tidak hadir perang badar, tatkala beliau datang berkata: “Aku telah absen awal peperangan Rosululloh memerangi orang-orang musyrik, kalau Alloh ta’ala menghadirkanku perang, sungguh Alloh melihat apa yang akan aku perbuat. Tatkala datang perang uhud, orang-orang berlarian dan dia berkata: “Ya Alloh sesungguhnya aku serahkan ini kepadamu dari apa yang didaangkan oleh mereka (Yakni orang-orang musyrik), dan aku meminta udzur kepadamu dari apa yang diperbuat mereka (orang-orang muslim), kemudian beliau berjalan dengan pedangnya dan bertemu dengan Sa’ad bin Mu’adz, lalu berkata: “Ya Sa’ad, demi jiwaku yang ada ditangannya sesungguhnya aku mencium bau surga dibawah Uhud. Bau surga!

Sa’ad berkata: “Aku tidak mampu Ya Rosululloh apa yang dia perbuat”.

Anas berkata: maka kami temukan dia diantara mayat-mayat dengan 80 lebih luka dari pukulan pedang, tusukan tombak, lemparan anak panah. Sungguh mereka telah membalas dengan semisalnya”.

Dia berkata: “dan kami tidak mengetahuinya hingga saudara perempuannya mengetahui ruas-ruas jariya. Anas berkata: “maka kami berkata: “Turun ayat ini:

Padanya dan pada teman-temannya.

Alloh ta’ala berfirman:

“Ta’at dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). apabila Telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). tetapi Jikalau mereka benar ( jujur imannya) terhadap Alloh, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka”.(QS.Muhammad [47]: 21)

Maksudnya jika mereka jujur kepada Alloh ta’ala dalam keimanan, maka hati mereka sesuai dalam hal itu kepada lisan mereka.

Alloh ta’ala Paling Jujur dari Orang-Orang Yang Jujur.

Tiada didunia dan di langit orang yang paling jujur dari Alloh ta’ala. Jika Alloh ta’ala berfirman maka firman adalah kebenaran dan kejujuran. Maha suci Alloh terhindar dari perkataan bohong, bathil dan tidak berguna.

Dan begitu juga dalam setiap apa yang telah disyari’atkan adalah kebenaran baik berhubungan dengan agama atau dunia, baik yang berhubugan dengan perkara yang lalu, sekarang, atau mendatang.

Ketahuilah, bahwa istilah jujur, berlaku untuk beberapa makna, di anataranya:

  • Jujur dalam perkataan.

Setiap orang haruslah menjaga setiap pembicaranya, tidak berbicara kecuali yang benar dan berbicara secara jujur. Makna jujur dalam pembicaraan merupakan jenis jujur yang paling jelas dan paling terkenal. Seseorang juga harus menghindari pembicaraan yang dibuat-buat, karena hal ini termasuk kedalam jenis dusta, kecuali ada keperluan yang mendorongnya berbuat seperti itu dalam keadaan-keadaan tertentu, yang dengannya dapat mendatangkan kemaslahatan.

  • Jujur dalam niat dan kehendak

Jujur dalam niat dan kehendak ini, maknanya di kembalikan kepada sikap ikhlas. Jika amalnya ternodai oleh nafsu, maka gugurlah kejujuran niatnya, dan pelakunya dapat di kelompokkan sebagai orang yang berdusta, seperti yang di sebutkan dalam suatu hadits tentang tiga orang, yaitu: orang yang berilmu, seorang qori’ (pembaca Al-Qur’an), dan seorang mujahid yang ikut berperang. Pembaca Al-Qur’an berkata: “Aku sudah membaca Al-Qur’an hingga khatam.” Dustanya itu terletak pada kehendak dan niatnya, bukan pada bacaanya. Begitu pula yang terjadi pada dua orang yang lainnya (seorang qori’ dan seorang mujahid).

  • Jujur dalam hasrat dan pemenuhan dari hasrat itu

Contoh pertama bagi pemaknaan jujur dalam hal ini, adalah seperti orang yang berkata: “Jika Alloh mengkaruniakan harta benda kepadaku, maka aku akan menshodaqohkan semuanya”. Boleh jadi, hasrat ini jujur, namun bisa jadi ada keragu-raguan di dalamnya.

Contoh yang kedua bagi pemaknaan jujur dalam hal ini, seperti jujur dalam hasrat dan berjanji untuk diri sendiri. Sampai disini tidak ada hal yang berat dan sulit. Hanya saja, hal ini perlu di buktikan jika benar-benar terjadi, apakah hasrat itu benar adanya, ataukah justru dia akan lebih di kuasai oleh nafsu. Karena itu Alloh ta’ala berfirman:

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang Telah mereka janjikan kepada Alloh”. (QS. Al-Ahzab: 23).

  • Jujur dalam amal

Jujur dalam amal disini, berarti harus ada keselarasan antara yang abstrak dan juga yang konkrit, supaya amal-amalnya yang zhahir tidak terlalu memperlihatkan ke khusyuan atau sejenisnya, dengan mengalahkan apa-apa yang ada di batinnya. Tetapi bagi batin harus sebaliknya.

Mutharrif berkata: “Jika yang tersembunyi di dalam batin seseorang, selaras dengan apa yang terlihat, maka Alloh berfirman: “Inilah hamba-Ku yang sebenarnya”.

  • Jujur dalam berbagai masalah

Ini merupakan derajat jujur yang paling tinggi, seperti jujur dalam rasa takut, berharap, zuhud, ridho, cinta, tawakkal dan lain-lainnya. Semua masalah ini memiliki prinsip-prinsip yang menjadi dasar di gunakannya berbagai istilah tersebut, yang juga mempunyai tujuan dan hakikat. Orang yang jujur dan mencari hakikat, tentu akan mendapatkan hakikat itu. Alloh ta’ala berirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Alloh dan Rosul-Nya, Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Alloh. mereka Itulah orang-orang yang benar”. (QS. Al-Hujuraat: 15).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comments links could be nofollow free.