Makna dan Syarat- syarat Taubat agar Taubat Kita Diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala

Taubat

Secara  bahasa / etimologi, taubat bermakna kembali. Sedangkan secara istilah / terminologi, makna taubat dalam pandangan Islam adalah kembali dari perbuatan maksiat menuju ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu, taubat dari setiap perbuatan dosa hukumnya wajib serta hendaknya tidak menunda-nundanya.

Banyak dalil, baik dari Al-qur’an maupun As-Sunnah yang menjelaskan bahwa taubat merupakan suatu kewajiban, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“ Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” ( QS. An-Nuur: 31 )

“ Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuha ( taubat yang semurni-murninya ).” (QS.At-Tahriim: 8 ).

Kemudian di dalam hadist yang shohih :

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “ Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Demi Allah, Aku memohon ampun dan bertaubat kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR.Al-Bukhari ).

Agar taubat kita diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ada lima syarat taubat yang wajib dipenuhi, yaitu :

  1. Ikhlas semata-mata karena Allah

Taubat seorang muslim haruslah semata-mata mengharap wajah Allah, Ia juga berharap semoga Allah menerima taubatnya dan mengampuni perbuatan maksiat yang telah dilakukannya.  Taubatnya bukan karena ingin dipuji atau ingin menghindarkan diri dari suatu hukuman, tetapi semata-mata karena mengharap ridha Allah, serta berharap Allah mengampuni dosa-dosanya.

  1. Menyesal karena telah melakukan perbuatan maksiat

Seseorang yang bersungguh-sungguh dalam taubatnya, maka ia akan menyesali atas perbuatan maksiat yang telah dilakukannya, Ia juga tidak menganggap apa yang dia lakukan dibolehkan dalam agama, hingga ia benar-benar bertaubat kepada Allah.

  1. Berhenti melakukan perbuatan maksiat yang Ia lakukan

Syarat ini merupakan syarat taubat yang paling penting. Seorang muslim harus melepaskan diri dari dosa yang sudah dia tinggalkan dengan cara bertaubat. Apabila maksiat tersebut berupa meninggalkan kewajiban, maka ia harus menjalankan kewajiban tersebut. Jika perbuatan maksiat tersebut berkenaan dengan hak manusia, maka ia harus menyelesaikan permasalahan yang menyangkut hak orang lain, apabila hak tersebut berupa harta maka ia harus mengembalikannya dan meminta maaf kepadanya.

  1. Bertekad untuk tidak mengulangi lagi perbuatan dosa itu dimasa yang akan datang

Jika seseorang bertaubat tapi masih ada keinginan untuk mengulanginya, maka taubatnya tidaklah diterima, misalnya seseorang yang membelanjakan hartanya untuk berbuat maksiat kepada Allah saat ia dalam kondisi kaya, namun ketika ia mengalami kemiskinan, ia lalu bertaubat, namun dalam hatinya masih ada niat bahwa jika pulih kekayaaanya, ia akan melakukan lagi perbuatan dosa tersebut.

  1. Taubat dilakukan pada saat taubat tersebut masih diterima

Jika seseorang bertaubat ketika taubat sudah tidak diterima lagi, maka taubatnya tidak bermanfaat, seperti kondisi ketika ajal akan menjemputnya, ia baru mau bertaubat, kondisi datangnya hari kiamat, baru ia mau bertaubat.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu, tidak berguna lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau (belum) berusaha berbuat kebajikan dengan imannya itu.” (QS.Al-An’am: 158 ).

Demikian beberapa point penting tentang Makna dan Syarat- syarat Taubat agar Taubat Kita Diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comments links could be nofollow free.