Menggenggam Sunnah di Zaman Fitnah

menggenggam bara api

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَأْتِي عَلى النَّاسِ زَمَانٌ اَلصَّابِرُ فِيْهِمْ عَلى دِيْنِهِكَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

“Akan datang pada manusia suatu zaman,saat orang yang bersabar di antara mereka di atas agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. at-Tirmidzi, dishahihkan al-Albani di as-Silsilah ash-Shahihah 2/645)

Di era globalisasi saat ini, peta aqidah dan sejarah umat Islam secara sadar ataupun tidak sadar telah mengalami perubahan, seiring pesatnya perkembangan informasi dan teknologi. Berbagai media informasi dan komunikasi yang mengglobal telah mampu menyihir opini yang mengubah keyakinan hidup seseorang. Keyakinan orang tentang alam gaib, tentang loyalitas kepada sesama Muslimin serta disloyalitas kepada kekufuran dan kemaksiatan, kekuatan dan kelemahan terhadap komitmen hukum-hukum Allah Ta’ala semuanya ikut berubah.

Sikap acuh tak acuh terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam terwujud dalam sikap menyimpang dari manhaj dan sunnahnya, beralih kepada prinsip-prinsip tokoh barat dan timur. Baik dalam permasalahan politik, pemikiran dan filsafat atau dalam masalah adab dan akhlak. Sebagian pemikiran orang ada yang hanya terikat dengan realita yang sifatnya kasat mata dan modern, lalu terpukau dengan tokoh-tokoh seperti itu dan melupakan kondisi yang agung yang dibawa Nabi untuk mereka yang hidup dan yang mati, sekarang dan masa yang akan datang, bahkan untuk kehidupan dan kematian. Sebagian orang menganggap sepele dalam hal merusak sirrah (sejarah hidup) Nabi dan sunnahnya. Hal ini mengakibatkan timbulnya perasaan ragu terhadap ucapan dan perbuatan beliau yang bersifat tasyri‘ (pensyari’atan kepada umatnya). Sebagian orang lagi bahkan ada yang berani secara terang-terangan menyelisihi dan menentang perintah dan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Padahal, mengikuti sunnah berarti mengikuti syari’at Islam, hukum dan adab-adabnya. Karena sunnah adalah Islam itu sendiri dan Islam adalah sunnah itu sendiri. Mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan menaati perintah-perintahnya, berarti mengikuti jalan petunjuk dan keselamatan. Jalan keselamatan dari perselisihan yang sudah dan akan terjadi.  Saking agung dan pentingnya jalan petunjuk dan keselamatan ini, beliau pun memerintahkan untuk menggigitnya dengan gigi geraham. Maksudnya agar kaum muslimin memegang sunnah dengan kuat, sekuat daya gigit gigi geraham.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Abu Dawud, dishahihkan al-Albani)

Orang yang menyelisihi sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak menaati perintah-perintahnya, telah diancam dengan malapetaka di dunia dan azab yang pedih di akhirat. Allah Ta’ala berfirman:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“…maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa malapetaka di dunia dan azab yang pedih di akhirat.” (QS an-Nur [24]:63)

Dalam tafsir as-Sa’di Rahimahullah dikatakan, “Hendaknya orang-orang yang berbeda padangan dengan Allah dan Rasul-Nya dalam sebagian urusan berhati-hati. Karena mereka akan tertimpa penyakit syirik dan celaka di dunia ini serta di akhirat nanti akan terkena azab yang sangat pedih.

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan, “Hendaknya orang-orang yang menyelihi perintah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam berhati-hati. Maksud perintah disini adalah metode keberagamaan beliau dari sunnah-sunnah dan syari’ah yang beliau bawa.” Sebab amalan apapun yang menyelisihi sunnah beliau akan tertolak berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:Siapa saja yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Bukhari)

Keharaman menyelisihi sunnah Rasulullah ditegaskan Allah seperti dalam firman-Nya:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS an-Nisa [4]:115)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan bahwa siapa saja yang mengikuti jalan selain jalan syari’at yang dibawa oleh Rasulullah setelah jelas kebenaran syari’at itu padanya, dan juga berbeda dengan metode para sahabat serta ijma’ kaum mukminin, maka dia berada di tepian yang berbeda dengan syari’at.

Karena kuatnya kuatnya orang-orang yang berpaling atau menentang mereka, banyaknya fitnah yang menyesatkan, baik fitnah syubhat, keraguan dan penyimpangan, maupun fitnah syahwat.

Di jaman yang diisyaratkan oleh Rasululah dalam hadits riwayat at-Tirmidzi di atas, begitu sulit dan beratnya orang yang ingin konsekuen menjalankan ajaran Islam yang haq, yang ingin terus menjalankan ibadah sesuai sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terkadang cacian, ucapan sinis dan pengucilan dari masyarakat yang mesti diterima. Bahkan sampai-sampai ada yang nyawanya dan keluarganya terancam. Demikianlah resikonya. Namun baginya telah menanti balasan di sisi Allah yang luar biasa andai mau bersabar.

إنَّ مِن ورائِكم أيامَ الصَّبرِ ، لِلمُتَمَسِّكِ فيهنَّ يومئذٍ بما أنتم عليه أجرُ خمسين منكم

Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari kesabaran, orang yang tetap mengamalkan ajaran agama ketika zaman itu akan mendapatkan pahala amalan 50 orang dari kalian (para sahabat Nabi)” (HR. Abu Daud, dishahihkan Al Albani)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comments links could be nofollow free.