Pilih Puasa Syawal Diawal Waktu atau DiakhirKan Yaa?

Bulan Syawal banyak dimanfaatkan oleh kaum muslimin terkhusus di Indonesia untuk bersilaturahim saling kunjung mengunjungi satu sama lain, sehingga suasana kekeluargaan semakin hangat.

Tak ketinggalan pula suguhan makanan dan kue-kuepun banyak dihidangkan untuk menyambut para tamu yang datang. Semarak iedul fitri di bulan syawal ini sangat terasa sekali hingga banyak orang yang bela-belain mudik dari satu pulau menuju pulau yang lain hanya untuk memanfaatkan momen syawal ini untuk bersilaturahim ke sanak keluarga di kampung. Selain untuk silaturahim, di bulan Syawal juga disunnahkan untuk puasa 6 hari.

Ada acara makan-makan saat silaturahim namun disisi lain ada ibadah puasa syawal, JADI ??…..

Yang jadi pertanyaan, khususnya bagi saudara-saudara kita yang ingin melaksanankan puasa syawal biasanya begini :

PUASA SYAWAL SEBAIKNYA SAYA KERJAKAN DIAWAL BULAN ATAU DIAKHIR YA???  

Mengapa Puasa 6 hari Syawwal sebaiknya diakhirkan setelah hari-hari Ied?

Syeikh Muhammad Mukhtar Asy-Syinqithi -hafizhohulloh-mengatakan:

Lebih Afdholnya… hendaknya seseorang menjadikan hari-hari iednya untuk kebahagiaan dan kesenangan (dengan tidak berpuasa).Oleh karena itu, telah valid dalam sebuah hadits yang shohih dari Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bahwa beliau mengatakan untuk hari-hari (tasyriq) di Mina: ‘itu adalah hari-hari makan dan minum… maka janganlah kalian berpuasa di dalamnya”.

Apabila hari-hari Mina yang tiga, karena dekat dengan hari Idul Adha mengambil hukum ini, tentunya hari-hari idul fitri tidak jauh keadaannya dari hukum ini…

Oleh karena itulah, kamu dapati orang-orang akan menjadi ‘tidak enak’ apabila mereka diziarahi oleh seseorang di hari raya, lalu dia menolak hidangan yang disuguhkan dan mengatakan ‘aku sedang berpuasa’, sebaliknya mereka senang bila hidangan itu dinikmati tamunya.Dan telah datang keterangan dari Nabi -alaihis sholatu wassalam- bahwa ketika beliau diundang oleh seorang sahabatnya dari kalangan Anshor untuk menikmati hidangan bersama sebagian sahabatnya, lalu ada sahabatnya yang menjauh dan mengatakan: ‘sungguh aku sedang berpuasa (sunnah)’. Maka Nabi -shollallohu alaihi wasallam- mengatakan kepadanya: ‘Sungguh saudaramu telah bersusah payah untukmu, jadi BATALKAN puasamu dan berpuasalah di hari lainnya’.

Ketika tamu masuk pada hari-hari ied, terutama hari kedua dan ketiga, tentu seseorang akan senang dan lega ketika melihat tamunya menikmati hidangannya. Jadi, keadaan seseorang bersegera untuk berpuasa pada hari kedua dan ketiga, ini perlu ditinjau lagi.

Sehingga lebih afdhol dan lebih sempurna bila seseorang menyenangkan perasaan orang lain (dg menikmati hidangannya). Bisa jadi di hari kedua dan ketiga ini ada acara-acara undangan, bisa jadi dia menjadi tamu mereka, dan mereka senang bila dia ada dan ikut menikmati hidangan mereka.

Maka perkara-perkara seperti ini; mementingkan silaturrahim dan membahagiakan kerabat, tidak diragukan lagi di dalamnya terdapat keutamaan yang lebih afdhol dari amalan (puasa) sunnah.

Ada sebuah kaidah mengatakan: ‘Jika ada dua keutamaanyang sama bertabrakan, dan salah satunya bisa dilakukan di waktu lain… maka hendaknya keutamaan yang bisa dilakukan di waktu lain diakhirkan’. Bahkan, silaturrahim tidak diragukan lagi termasuk diantara amalan taqorrob yang paling utama.Di sisi lain, syariat telah melapangkan untuk para hambanya dalam puasa 6 hari Syawwal ini, dia menjadikannya ‘mutlak’ (tidak terikat), boleh dilakukan di seluruh hari bulan syawwal, maka pada hari apapun puasa itu dilakukan di bulan syawwal; ia dibolehkan selain pada hari (pertama) ied.Berdasarkan keterangan ini, maka tidak ada alasan bagi seseorang untuk mempersulit dirinya dalam bersilaturrahim dan membahagiakan kerabatnya dan orang yang menziarahinya pada hari ied.

Oleh karena itu, hendaknya dia mengakhirkan puasa 6 hari syawal ini, sampai setelah hari-hari yang dekat dengan ied, karena orang-orang membutuhkan hari-hari ied itu untuk menciptakan suasana bahagia dan memuliakan tamu, dan tidak diragukan lagi mementingkan hal itu akanmendatangkan pahala, yang bisa saja melebihi pahala sebagian amal ketaatan (puasa)…

[Kitab: Syarah Zadul Mustaqni’, 107/5].

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comments links could be nofollow free.