Tazkiyatun Nafs ( Membersihkan Jiwa )

tazkiyatun-nafs

Sesungguhnya jiwa manusia terkadang mengalami kelalaian dan kejenuhan dalam ta’at kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan-Nya. Dimana berbagai amal bercampur baur dengan berbagai kemauan dan keinginan yang terkadang tidak sejalan dengan hakikat kehambaanya.  Akan tetapi terkadang manusia juga menyenangi  berbagai pujian dan ucapan terima-kasih yang diberikan orang lain atas dasar kebaikan yang diberikannya. Serta terkadang  jiwa mereka bersemangat untuk melaksanakan berbagai kebaikan dan keutamaan yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentu saja semuanya berpangkal pada sejauh mana jiwa manusia itu bersih dari berbagai kotoran yang menghinggapinya. Untuk itu kita perlu mengetahui bagaimana kita harus mensucikan jiwa kita tersebut.

Tazkiyatun nufus (penyucian jiwa) merupakan salah satu tujuan diutusnya para Nabi dan Rasul.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

huwa alladzii ba’atsa fii al-ummiyyiina rasuulan minhum yatluu ‘alayhim aayaatihi wayuzakkiihim wayu’allimuhumu alkitaaba waalhikmata wa-in kaanuu min qablu lafii dhalaalin mubiinin

[62:2] Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
rabbanaa waib’ats fiihim rasuulan minhum yatluu ‘alayhim aayaatika wayu’allimuhumu alkitaaba waalhikmata wayuzakkiihim innaka anta al’aziizu alhakiimu

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaitkan keberuntungan dengan usaha penyucian jiwa, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

qad aflaha man zakkaahaa

[91:9] sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,

Kebutuhan adanya penyucian jiwa muncul akibat adanya penyimpangan jiwa manusia yang fitroh dari jalan lurusnya yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada seluruh manusia, dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala:

wa-idz akhadza rabbuka min banii aadama min zhuhuurihim dzurriyyatahum wa-asyhadahum ‘alaaanfusihim alastu birabbikum qaaluu balaa syahidnaa an taquuluu yawma alqiyaamati innaa kunnaa‘an haadzaa ghaafiliina

[7:172] Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata-kan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

Perjanjian ini menurut ulama dikenal sebagai Mitsaqul Fithroh (perjanjian fithroh).

Hati adalah wadah yang harus disucikan guna menolak syahwat (segala bentuk keinginan yang keluar dari fithroh ) dan syubhat ( segala bentuk penyamaran hakekat).

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaitkan baiknya seluruh bentuk aktivitas amal seseorang dengan baiknya sebuah hati ( pusat jiwa ). Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal darah. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati. ( HR.Bukhari : no.39 )

Dengan demikian dapat diketahui bahwa upaya untuk menyucikan jiwa merupakan satu bentuk ibadah yang amat penting sebagai tolak ukur bagi baiknya seluruh aktivitas jasad yang dilakukan. Sejauh mana kita berupaya menyucikannya, sejauh itu pula amal yang kita usahakan mencapai kemuliaan atau kehinaan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comments links could be nofollow free.