Fikih Pengobatan Islami

kesehatan

Rasa sakit adalah salah satu bentuk ujian dari Allah Ta’ala. Sabar menyikapi segala macam penyakit yang menimpa dengan tetap berprasangka baik kepada Allah akan mengangkat derajat dan menghapus dosa seorang hamba. Akan tetapi, kesalahan dalam menyikapi ujian berupa penyakit dapat merusak keagamaan seseorang.

Sakit yang menimpa manusia membuktikan bahwa manusia butuh kepada Allah Ta’ala yang berkuasa atas hamba-hamba-Nya. Dialah Allah yang berhak memberi manfaat dan mudharat kepada makhluk-Nya. Manusia yang membutuhkan manfaat dan perlindungan dari mudharat harus meminta kepada-Nya. Di antara rahmat Allah Ta’ala atas hamba-hamba-Nya, Dia tidaklah menurunkan penyakit di muka bumi ini melainkan Dia turunkan pula obat penawarnya.

رَوَي اْلبُخَارِيُّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Tidaklah Allah turunkan penyakit melainkan Allah turunkan pula penawarnya.” (HR. al-Bukhari No.5678)

 

Jumhur ulama dari kalangan mazhab Hanafi dan mazhab Maliki berpendapat bahwa berobat hukumnya mubah yaitu dibolehkan. Sementara ulama mazhab Syafi’i, Al-Qadhi, Ibn Aqil dan Ibn al-Jauzi dari kalangan ulama Hambali rahimahumullah berpendapat bahwa berobat hukumnya mustahab yaitu dianjurkan.

Sebenarnya berobat merupakan sebab menyembuhkan penyakit yang dibolehkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-nya. Sebab tersebut merupakan ikhtiyar seseorang dari takdir menuju takdir. Akan tetapi, hak kesembuhan tetap milik Allah Ta’ala semata.

رَوَي مُسْلِمٌ عَنْ جَابِرٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ: لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Muslim meriwayatkan dari Jabir radhiallahu anhu, dari Rasulallah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Setiap penyakit terdapat obat penawarnya, maka apabila obat penyakit tersebut tepat maka atas ijin Allah Azza wa Jalla akan terbebas.” (HR. Muslim No.5741)

Dalam hadits-hadits shahih telah disebutkan perintah berobat, dan berobat tidaklah menafikan tawakkal. Sebagaimana makan karena lapar, minum karena dahaga, berteduh karena panas dan menghangatkan diri karena dingin tidak menafikan tawakkal. Tidak akan sempurna hakikat tauhid kecuali dengan menjalani ikhtiyar (usaha) yang telah dijadikan Allah sebagai sebab musabab terjadi suatu takdir. Bahkan meninggalkan ikhtiyar dapat merusak hakikat tawakkal, sebagaimana juga dapat mengacaukan urusan dan melemahkannya. Karena orang yang meninggalkan ikhtiyar mengira bahwa tindakannya itu menambah kuat tawakkalnya. Padahal justru sebaliknya, meninggalkan ikhtiyar merupakan kelemahan yang menafikan tawakkal. Sebab hakikat tawakkal adalah mengaitkan hati kepada Allah dalam meraih apa yang bermanfaat bagi hamba untuk dunia dan agamanya serta menolak mudharat terhadap dunia dan agamanya. Tawakkal ini harus disertai dengan ikhtiyar, jikalau tidak berarti ia telah menafikan hikmah dan perintah Allah. Janganlah seorang hamba itu menjadikan kelemahannya sebagai tawakkal dan jangan pula menjadikan tawakkal sebagai kelemahannya. (Ibn al-Qayyim, Zaad al-Ma’ad IV/15)

Pada kondisi-kondisi tertentu berobat diwajibkan kepada orang tertentu dalam kondisi tertentu yaitubagi seorang yang jika meninggalkan berobat bisa jadi membinasakan diri, anggota badan atau dirinya jadi lemah, juga bagi orang yang penyakitnya bisa berpindah bahayanya pada orang lain.

Syaikh Shalih al-Munajjid hafidzahullah dalam fatwanya No.2148 yang dimuat dalam situs islamqa.info menjelaskan rincian hukum berobat sebagai berikut:

  1. Berobat jadi wajib jika tidak berobat dapat membinasakan diri orang yang sakit.
  2. Berobat disunnahkan jika tidak berobat dapat melemahkan badan, namun keadaannya tidak seperti yang pertama.
  3. Berobat dihukumi mubah (boleh) jika tidak menimpa pada dirinya dua keadaan pertama.
  4. Berobat dihukumi makruh jika malah dengan berobat mendapatkan penyakit yang lebih parah.

 

Dalam Islam, ada beberapa obat yang sangat dianjurkan untuk dikonsumi, baik untuk pencegahan maupun untuk pengobatan. Di antara yang disebutkan dalam nash sebagai obat adalah madu, habbahtussauda, minyak zaitun, bekam, ruqyah, kurma ajwa dan lain-lain. Tentu, keyakinan terhadap apa-apa yang disebut sebagai obat oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya harus diyakini dengan sepenuhnya karena itu adalah wahyu Allah Ta’ala dan Dia Maha Mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk bagi hamba-Nya.

Dalam kitab hadits shahih al-Bukhari terdapat bab khusus tentang pengobatan yaitu kitab al-Thibbyang berarti: Kitab Pengobatan. Demikian pula imam Muslim banyak meriwayatkan hadits-hadits tentang pengobatan dalam kitab shahihnya. Berikut contoh ayat dan hadits-hadits yang menjelaskan tentang obat yang dianjurkan untuk dikonsumsi.

Allah Ta’ala berfirman tentang lebah dalam al-Qur’an:

يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ

“Dari perut lebah itu keluar cairan dengan berbagai warna, di dalamnya terdapat kesembuhan bagi manusia.” (QS. Al-Nahl: 69)

رَوَي اْلبُخَارِيُّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الشِّفَاءُ فِي ثَلَاثَةٍ فِي شَرْطَةِ مِحْجَمٍ أَوْ شَرْبَةِ عَسَلٍ أَوْ كَيَّةٍ بِنَارٍ وَأَنَا أَنْهَى أُمَّتِي عَنِ الْكَيِّ

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibn Abbas radhiallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Kesembuhan terdapat dalam tiga hal, yakni sayatan alat bekam, minuman madu, dan sundutan api. Aku melarang ummatku dari sundutan api.” (HR. al-Bukhari)

رَوَي اْلبُخَارِيُّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : فِي الْحَبَّةِ السَّوْدَاءِ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ إِلاَّ السَّام

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa beliau mendengar Rasulallah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Habbah Sauda adalah obat dari segala macam penyakit kecuali kematian.” (HR. al-Bukhari No.5688 dan Muslim No.5761)

Ibnu Majah meriwayatkan dalam kitab sunannya dari Abdullah ibn Umar, dari bapaknya radhiallahu anhuma, beliau berkata bahwa Rasulallah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Gunakan zaitun sebagai lauk dan minyak, karena ia merupakan pohon yang diberkahi.” (HR. Ibnu Majah)

Adapun obat-obatan yang sudah diuji secara ilmiah ilmu kedokteran maka tidak mengapa bagi seorang muslim mengkonsumsinya, dan juga dibolehkan berobat kepada dokter. Dibolehkan pula obat-obatan tradisional yang sudah teruji berdasarkan eksperimen dari para ahlinya yang mengetahui formula obat-obatan, karakteristik dan cara penggunaannya. Tapi peru diingat, bahwa hak kesembuhan hanyalah milik Allah Ta’ala sehingga selain menjalani ikhtiyar dengan berobat juga harus diiringi dengan berdo’a kepada Allah Ta’ala. Sedangkan berobat kepada dukun, orang pintar, lewat bantuan jin, menggunakan benda-benda keramat, sihir, ataupun yang tidak lazim serta tidak masuk akal seperti batu Ponari maka jelas diharamkan yang bisa mengarahkan pada kesyirikan.

Disusun oleh: Abu Mujahidah al-Ghifari, Lc., M.E.I.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comments links could be nofollow free.