Duduklah Engkau, Aku dari Tadi Sudah Bertahan

duduklah aku telah bertahan

 

Di tahun itu, sekitar 4 H, kesedihan  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum Muslimin menyelimuti kota Madinah. Selama satu bulan pasca tragedi pembantaian terhadap tujuh puluh orang delegasi Rasulullah yang dikirimkan untuk kabilah-kabilah di wilayah Najd, Rasulullah bersama kaum Muslimin senantiasa melaksanakan qunut nazilah pada setiap shalat maghrib dan subuh. Setelah itu Rasulullah menyiapkan strategi untuk memerangi mereka, yang kemudian dikenal dengan perang Dzatur Riqa’.

Pada perang Dzatur Riqa’ lawan kaum muslimin bukanlah musuh-musuh besar seperti kafir Quraisy, Yahudi atau Romawi yang secara umum mereka semua memiliki dendam dan keinginan untuk menghancurkan umat Islam. Tetapi lawan kaum muslimin saat itu adalah suatu kaum yang sebelumnya tidak diperhitungkan, yaitu kaum Badui.

Kaum Badui yang sejatinya tidak masuk hitungan dalam strategi perang kaum Muslimin, justru seringkali menjadi musuh dalam selimut. Mereka dikenal sebagai kaum yang keras kepala, susah diajak kepada kebenarang, dan suka melakukan penyerangan, perampasan dan perampokkan terhadap kaum Muslimin, sehingga hal ini tidak bisa dibiarkan. Untuk itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sangat serius menyiapkan strategi untuk menghadang mereka.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendapat informasi tentang Bani Tsa’labah yang tergabung bersama Bani Mugharib di Ghothofan. Berdasarkan informasi ini, Beliau berangkat bersama 400 atau 700 prajurit. Madinah diwakilkan kepada Abu Dzar atau Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhuma. Beliau memasuki wilayah mereka hingga tiba di suatu tempat yang disebut Nakhl, yang ditempuh dengan perjalanan kaki dua hari dari Madinah. Beliau bertemu dengan segolongan penduduk dari Ghathafan. Mereka menawarkan perdamanain dan tidak terjadi pertempuran. Hanya saja di sana Beliau sempat shalat khauf.

Di sinilah awal mula istilah Dzatur Riqa’ muncul. Yaitu ketika kaum Muslimin yang sedang berjalan dan di tengah-tengahnya ada seekor unta, maka mereka berjalan di belakang unta tersebut. Saking panasnya cuaca dan jauhnya perjalanan, menyebabkan kaki-kaki mereka terluka dan pecah-pecah. Akhirnya mereka membalut kaki-kaki mereka menggunakan kain perca, karena itu tempat tersebut dinamakan Dzatur Riqa’ (yang ada tambalannya) karena mereka membalut kaki-kaki mereka dengan sobekan kain perca.

Meski perang urung terjadi, namun peristiwa ini menyisakan banyak kisah. Diantaranya sebagaimana yang disebutkan dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu.

Dalam riwayat(Jabir mengisahkan) bahwa beliau ikut berperang bersama Rasulullah saw, perang arah Najd (yakni perang Dzatur Riqa’). Saat kepulangan (menuju madinah) Jabir juga ikut mengiringi. Sampailah rombongan di sebuah lembah yang banyak ditumbuhi tanaman, di waktu siang. Rasul pun singgah, sahabat berpencar berteduh di bawah pepohonan. Rasulullah berteduh di bawah sebatang pohon, beliau gantungkan pedang beliau. Berkata Jabir selanjutnya: “Kami tertidur, tiba-tiba Rasulullah saw menyeru memanggil, kami bergegas memenuhi seruannya. Ternyata seorang Badui terduduk di sisi beliau. Rasul berkata: “Orang ini telah mengambil pedangku. Begitu aku bangun pedang telah ditangannya terhunus di hadapanku. Berkata sang Badui: Siapa yang akan membelamu dariku wahai Muhammad ? Aku jawab: Allah ! Pedang pun terjatuh, dan ia terduduk.! Rasulullah tidak membalasnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Muhammad bin Ishaq meriwayatkan bahwa setelah Rasulullah menjawab pertanyaan Badui dengan ucapan beliau: “Allah !” Jibril mendorong dada badui hingga terjatuh pedang lalu Rasulullah saw mengambilnya, kemudian kemudian balik bertanya kepada Badui: “Siapa yang akan membelamu dariku?” Badui menjawab: “Tak ada seorang pun.” Rasulullah bersabda: “Bangkit, pergilah engkau untuk urusanmu.” Bahkan di akhir kisah, sang Badui itu akhirnya masuk Islam dan berjanji untuk tidak memusuhi Islam lagi. Allahu a’lam.

Disebutkan pula dalam tafsir Imam Ibnu Katsir Rahimahullah, bahwa kisah tersebut melatarbelakangi turunnya firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ هَمَّ قَوْمٌ أَنْ يَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ فَكَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakkal.” (QS al-Maidah [5]:11)

Perjalanan Pulang

Dalam perjalanan pulang, pasukan Muslimin menawan seorang wanita dari kaum musyrik. Ternyata sang suami dari wanita itu tidak terima atas perlakuan tersebut. Akhirnya ia pun bertekad untuk menumpahkan darah seorang sahabat. Sementara itu, kaum Muslimin tengah berada di sebuah lembah dan beristirahat.

Di tempat itu, dua orang, satu dari kalangan Muhajirin dan satunya dari kalangan Anshar sepakat untuk bergantian berjaga-jaga malam. Giliran jaga pertama adalah orang Anshar. Ketika itulah, suami perempuan yang tertawan itu sampai di lembah. Dalam keremangan malam, ia melihat orang Anshar yang sedang berjaga-jaga tengah berdiri mengerjakan shalat. Tanpa pikir panjang, orang itu pun melesatkan anak panahnya ke arah orang Anshar. Anak panah itu pun tepat mengenai tubuh orang Anshar itu, tapi ia tetap berdiri. Bahkan mencabut panah dari tubuhnya. Panah kedua hingga ketiga pun dilesatkan dan megnenai tubuh orang Anshar. Tapi iatetap menersukan shalatnya dan mencabut anak-anak panah itu dari tubuhnya. Setelah darahnya banyak terkucur dan ia merasa lemah, ia membangunkan orang Muhajirin untuk giliran jaga. Ia berkata, “Duduklah engkau, aku sudah dari tadi bertahan.”

“Subhanallah,” kata temannya, “Mengapa engkau tidak memberitahuku?”

“Saat itu aku sedang membaca sebuah surat al-Qur’an dan aku tidak ingin memutus bacaanku. Ketika tiga aak panah menancap di tubuhku, aku mencabutinya satu persatu, lalu aku rukuk hingga bisa menyelesaikan shalat, lalu membangunkanmu.”

Itulah sebagian kisah para perang Dzatur Riqa’ yang terjadi sebelum perang Khandaq. Perang yang mengandung pembangkit spirit perjuangan dan pesan-pesan bermakna tentang kesetiaan, kesabaran, dan keberanian di atas jalan kebenaran serta kebesaran hati untuk memberikan maaf kepada musuh yang sudah lemah. Semoga kita dapat mengambil hikmat spirit untuk meneladaninya. Allahu ‘alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comments links could be nofollow free.