Bagaimana Cara Islam Memandang Harta

cara islam memandang harta

Seringkali seseorang merasa bahwa harta yang dimikinya adalah semata-mata hasil dari jerih payahnya sendiri, baik harta berupa rumah, kendaraan, perniagaan, uang, perhiasan, ladang, pertanian dan berbagai macam jenis harta lainnya. Bahkan orang yang memilki kelebihan harta terkadang menganggap rendah terhadap orang yang tidak memiliki harta.

Hakikat harta dalam Islam yang dimiliki seorang hamba, adalah sebagai amanah yang semata-mata titipan dan pemberian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dia memberi kepada orang yang dikehendakiNya dan menahan dari orang yang dikehendaki Nya pula. Diapun berwenang menentukan kadar banyak dan sedikitnya harta yang diberikan kepada hamba-hambaNya, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala pun berhak mengambil kembali pemberianNya dan hal itu suatu hal yang sangat mudah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Marilah kita merenungkan atas apa yang menimpa hamba dinar dan dirham yang bernama Qorun, dimana qorun mengganggap harta yang dimilikinya murni dari jerih payahnya sendiri, Alloh Subhanahu wa Ta’ala pun menyegerakan hukumannya dengan membenamkan Qorun beserta seluruh hartanya, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Qasas: 81 yang artinya :

فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ الَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ

“Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).”

Harta yang diberikan kepada seorang hamba adalah sebagai ujian, apakah dengan harta itu dia mampu menggunakannya pada jalan ketaatan dan kebaikan, apakah ia menunaikan hak-hak hartanya, apakah ia peduli terhadap fakir miskin yang membutuhkannya, apakah pemilik harta peduli terhadap dakwah Islam yang sangat membutuhkan dana yang sangat besar atau justru dengan harta itu ia lupa akan kewajiban ibadah, lupa akan hak harta, lupa akan solidaritas sesama kaum muslimin dan bahkan bisa jadi dengan harta itu ia tenggelam kedalam kemaksiatan. Jika pemilik harta tidak bisa mengendalikannya sesuai dengan ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala , maka ia telah terfitnah dengan harta tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman dalam surat At-Thagabun : 15

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚوَالَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar”.

Di dalam ayat ini, ditegaskan bahwa harta  merupakan ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga seorang hamba yang tidak pandai mengalokasikan hartnya di jalan yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka sesungguhnya Ia telah terfitnah dengan harta tersebut. Hanya ada dua jalan ketika kita mendapatkan harta yaitu membelanjakan dengan cara yang tepat sesuai petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya atau harta tersebut digunakan di jalan syaiton dengan berfoya-foya dan mendanai beragam kemaksiatan yang dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala, sudah tentu diantara dua jalan tersebut yang diridhoi adalah yang digunakan untuk ibadah, dalam rangka taqarub kepada Alllah Subhanahu wa Ta’ala, dan menunaikan hak-hak harta seperti zakat,infak dan shadaqoh.

Bagaimana Cara Islam Memandang Harta

Bagaimana Cara Islam Memandang Harta

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi petunjuk dan motivasi agar menggunakan harta di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah :261

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

 

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Ayat ini merupakan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi yang menggunakan  hartanya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, janji ini harus diimani oleh setiap muslim. Harta yang dikeluarkan di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala oleh seorang muslim akan dilipatgandakan pahalanya oleh Subhanahu wa Ta’ala, dan ini menunjukkan bahwa harta yang dibelanjakan di jalan Allah tiadaklah berkurang pada hakikatnya melainkan akan dikembalikan dengan berlipat ganda.

Dengan demikian, menginfakkan harta di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah diantara cara membebaskan diri dari fitnah harta, baik dalam rangka menggunakan untuk fasilitasi untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengeluarkan zakatnya dan menggunakan pada hal-hal yang bermanfaat sehingga seorang hamba yang menginfakkan hartanya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah  hamba yang tulus dan selamat dari ujian harta, sedangkan sebaliknya mereka yang enggan menggunakan hartanya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hakikatnya ia telah terfitnah dari harta tersebut dan Ia terancam dengan siksaan yang dahsyat, harta yang membahagiakan justru menjadi sebab kesengsaraan dan kepedihan yang akan dia terima.

Demikian beberapa uraian penting sebagai motivasi tentang bagaimana cara Islam memandang harta, semoga kita bisa menjadikan harta yang kita milki ini menjadi wasilah untuk kepentingan dan kejayaan Islam. Wallohu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comments links could be nofollow free.