Penuhilah Seruan Allah dan RasulNYA

penuhilah seruan Alloh

Penuhilah Seruan Allah dan RasulNYA

Allah swt  berfirman:

Penuhilah Seruan Allah Dan RasulNYA

 

Penuhilah Seruan Allah dan RasulNYA

“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan” [QS. al-Anfāl (8): 24]

Alangkah agung nikmat yang Allah swt anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya, ke-tika Dia menyempurnakan agama-Nya, me-lengkapi nikmat-Nya dan meridhai Islam sebagai agama-Nya, melengkapi nikmat-Nya dan meridhai Islam sebagai agama-Nya.

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepa-damu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu” [QS. al-Mā’idah (5): 3)

Alangkah terhormatnya seorang manusia, saat kembali menuju Allah swt, menerima dakwah-Nya dan melihat jalan lurus yang ada di hadapannya. Itulah peran diri yang harus ditunaikan dalam kehidupannya.

Orang-orang yang mau menerima seruan Allah swt dan Rasul-Nya saw, secara dzahir dan bathin, adalah orang-orang yang hidup, sekalipun jasad-jasad mereka telah mati, orang-orang kaya, sekalipun tak memiliki apa-apa, dan mereka adalah orang-orang mu-lia, sekalipun minim pendukung dan kelu-arga.

Selain mereka adalah orang-orang mati, sekalipun jasad-jasad mereka masih hidup.

Mereka mati tidak hidup, mereka tidak me-nyadari[QS. al-Nahl (16): 21]

Mereka adalah orang-orang miskin, seka-lipun tumpukan emas memenuhi saku-saku, gudang-gudang, ataupun rekening-rekening mereka. Mereka adalah orang yang diselimuti kehinaan, sekalipun berasal dari keturunan terhormat lagi mulia.

Karena itu, manusia yang paling sem-purna hidupnya adalah mereka yang paling sigap menyambut seruan Allah swt dan Rasul-Nya saw. Mereka hidup dengan-nya dan menyampaikan pesan-pesannya. Setiap apa yang diserunya mengandung kehidupan. Barangsiapa kehilangan salah satu bagian dari peran dakwahnya, maka akan hilanglah satu bagian dari hidupnya. Mereka memiliki kehidupan sebesar per-kenan dirinya mau menerima Allah swt dan Rasul-Nya saw. Allah swt membe-rikan dakwah mulia ini untuk kaum muk-minin, menghimpun mereka dalam pera-saan iman, menyeru mereka dengan nama iman dan mengingatkan mereka tentang kandungan iman. Dia panggil mereka dengan seruan iman, agar mereka siap sedia menyambut dakwah-Nya dengan sungguh-sungguh dan perhatian, siaga dan sepenuh kekuatan. Itulah sikap seo-rang mukmin: Menyongsong perintah-perintah Allah swt dan seruan dakwah-Nya dengan penuh kekokohan jiwa dan kemantapan hati.

“Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu” [QS. al-A’rāf (7): 171]

Tidak ada seorangpun yang mampu mengemban dakwah dan bertahan meng-hadapi rintangannya serta mampu hidup dan bergerak di dalamnya kecuali pah-lawan perkasa. Dia adalah ummat yang mela-hirkan generasi beriman yang istimewa, me-nerima al-Kitab dengan penuh komitmen, dan konsekuen dengan kandungannya. Dia-lah ummat yang memiliki risalah dan tujuan mulia, berjuang dan berjihad untuk-Nya.

“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memi-lih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu men-jadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atau segenap manusia” [QS. alHajj (22): 78]

Dia menjadi ummat pemandu dan pemim-pin yang dipilih Allah swt sebagai saksi kunci bagi seluruh manusia, untuk menegakkan keadilan dan kejujuran, serta meletakkan timbangan rabbaniyyah dan nilai-nilai mulia. Dan dia adalah ummat yang adil dan per-tengahan.

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam), ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbu-atan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu [QS. al-Baqarah (2): 143]

Dakwah inilah yang Allah swt tujukan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, dakwah menuju kehidupan. Kehidupan yang beragam bentuknya dan berbeda hakekat maknanya, bukan semata-mata kehidupan. Sebuah kehidupan mulia dan hakikat sem-purna yang membedakan seorang insan de-ngan makhluk-makhluk lainnya. Seluruh makhluk lainnya hidup di alam hewan, ber-gerak dengan dorongan perut dan kemaluan, tidak mengenal tujuan mulia yang harus di-tempuh, tidak pula mengenal risalah hidup yang harus diemban dan berjuang di jalan-nya. Harga dirinya hanyalah beberapa dir-ham yang memenuhi kantongnya, atau sesuap nasi yang memenuhi perutnya, atau sehelai kain yang menutupi jasadnya. Setelah itu, tak ada apa-apa, kecuali hanya sekedar berlalu-lalang.

Itulah sebuah kehidupan yang meng-gelorakan qalbu dan akal, aqidah yang menyinari jiwa, hingga terciptalah seso-sok diri yang penuh hidayah dan cahaya.

“Dan apakah orang yang sudah mati ke-mudian dia Kami hidupkan dan Kami be-rikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya” [QS. al-An’ām (6): 122]

Itulah aqidah yang menuntun akal, mengarahkan gerak dan kerja, mencegah penyimpangan dan pemalsuan, menjaga kemampuan dan potensi. Saat seseorang mampu menata fikrahnya dengan lurus, menentukan ruang gerak pencapaian akalnya serta mencegah sesuatu yang yang tak sanggup dipikirkan dan dijang-kaunya, saat itulah dia telah mampu mem-potensikan daya akalnya untuk bekerja sesuai ruang lingkupnya. Dengan itulah, dia akan mampu mewujudkan hasil-hasil besar sunnah rabbāniyyah di alam semesta, di alam sosial, kebudayaan, dan dalam rentetan berbagai peristiwa sejarah.

Itulah kehidupan yang menghidup-kan ruh dan jasad, tanpa terpisah atau berbenturan. Di dalam Islam, penyiksaan tubuh bukan jalan menuju ketinggian dan kesucian ruhani. Perhatian terhadap ru-hani tidak berarti bahwa seorang mukmin harus menolak dan menyingkirkan apa saja yang dihalalkan dan diharamkan oleh Allah swt, bukan pula dengan menolak hak kehidupan dan perhiasan yang dike-luarkan Allah swt untuk hamba-hamba-Nya.

“Dan carilah pada apa yang telah dianuge-rahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melu-pakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) seba-gaimana Allah telah berbuat baik kepadamu….” [QS. al-Qashash (28): 77]

Itulah pelajaran yang diberikan Nabi saw kepada para shahabatnya, yang ditanamkan dalam kalbu dan jiwa mereka, sebuah pela-jaran dan pengajaran yang takkan terlupa.

Anas bin Malik berkata: Tiga orang laki-laki datang ke rumah isteri Rasulullah saw untuk bertanya tentang peribadatan beliau. Saat mereka sudah dikhabarkan tentang iba-dah beliau tersebut, mereka merasakan mi-nim sekali ibadah mereka jika dibandingkan dengan beliau. Mereka berkata: “Siapakah kita ini, jika dibandingkan dengan Nabi saw yang telah diampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang kemudian?”. Lalu, salah seorang dari mereka berkata: “Saya akan shalat malam selama-lamanya”. Yang lain berkata: “Saya akan shaum sepanjang tahun tidak berbuka”. Dan yang lain berkata pula: “Saya akan me-ninggalkan wanita, tidak menikah selama-lamanya”. Lalu, datanglah Rasulullah saw dan berkata: “Kalian yang berkata ini dan itu? Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut dan bertaqwa kepada Allah swt, akan tetapi aku shaum dan berbuka, aku shalat dan tidur serta menikahi wanita. Barangsiapa membenci sunnahku, maka bukanlah go-longanku” (HR. al-Bukhāriy dan Muslim)

Tidak akan terwujud kehidupan kecuali dengan wahyu al-Rahmān swt.

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apa-kah al-Kitab (al-Qur’an) dan tidak pula me-ngetahui apakah iman itu, tetapi Kami men-jadikan al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tun-juki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesung-guhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan” [QS. al-Syūrā (42): 52-53]

Allah swt menamakan wahyu yang diturunkan kepada Rasul-Nya dengan ruh, karena di atasnyalah kehidupan ha-kiki terwujud. Dia namakan juga wahyu-Nya dengan nūr (cahaya), karena di da-lamnya mengandung hidāyah (petunjuk). Serta menamakannya dengan syifā (obat penawar).

“Yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehen-daki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat)” [QS. al-Mu’min (40): 15]

“Katakanlah: al-Qur’an itu adalah petun-juk dan penawar bagi orang-orang yang beriman [QS. Fushshilat (41): 44]

Oleh karena itu, tidaklah aneh jika Nabi saw mengumpamakan iman dan aqidah yang diwahyukan kepadanya sebagai hujan yang diturunkan ke tanah yang gersang, hingga tanah itupun tum-buh subur. Rasulullah saw bersabda:

Perumpamaan hidayah dan ilmu yang diutuskan Allah kepadaku adalah seperti hujan lebat yang menimpa selahan tanah. Di antara tanah itu ada yang subur sekali yang mampu menampung air, lalu me-numbuhkan rerumputan dan tunas-tu-nas pohon yang banyak. Ada pula tanah gersang yang hanya menampung air un-tuk minum manusia, untuk pengairan dan pertanian. Serta ada pula tanah mati yang tidak dapat menampung air dan juga tum-buh-tumbuhan. Itulah perumpamaan orang yang faqih dalam agama Allah dan mem-berikan manfaat dengan wahyu yang di-turunkan Allah kepadaku, maka diapun berilmu dan mengajarkan ilmunya. Dan perumpamaan orang yang tidak mengang-kat kepalanya sedikitpun dan tidak mene-rima hidayah Allah yang aku diutus kare-nanya(HR. al-Bukhāriy dan Muslim)

Itulah dakwah menuju aqidah, Islam dan iman. Allah swt menghidupkan me-reka dengan Islam dan iman setelah me-reka mati dalam kekufuran.

Itulah dakwah menuju kebenaran dan kekuatan. Kebenaran yang menjadi landasan didirikannya langit dan bumi, karena Allah swt tidak menciptakan keduanya kecuali dengan kebenaran.

“Dan tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar-benar” [QS. al-Hijr (15): 85]

Kitab yang diturunkan oleh Allah swt ke-pada penutup para nabi dan rasul-Nyapun adalah kebenaran. Karena Dia  menurunkan-nya dengan kebenaran.

“Dan apa yang telah Kami wahyukan kepa-damu yaitu al-Kitab (al-Quran) itulah yang benar” [QS. Fāthir (35): 31]

“Dia menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepa-damu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya” [QS. Āli ‘Imrān (3): 3]

Syari`at yang diturunkan Allah swt  ke-pada Rasulullah saw adalah kebenaran dan keadilan. Allah swt sempurnakan syari`at-Nya dan dianugerahkan kepada seluruh makh-luk-Nya, agar mereka menegakkan kebenaran dan keadilan di antara mereka.

“Dialah yang mengutus Rasulnya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama” [QS. al-Shaff (61): 9]

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama me-reka al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan……. [QS. al-Hadīd (57): 25]

Jika kebenaran harus memiliki kekuatan yang dapat melindungi dan dapat menying-kirkan berbagai rintangan dalam perjalanan membawa dan menyampaikannya kepada ummat manusia, maka atas dasar perkataan al-Fāruq ‘Umar adalah bahwa bicara kebe-naran tidak akan berarti tanpa ada yang men-sukseskannya. Sesungguhnya seruan kehi-dupan ini adalah seruan kekuatan dan jihad yang menjadi sebab Allah swt muliakan um-mat ini setelah tertimpa kehinaan, Allah swt kuatkan setelah meng-alami kelemahan. Bendera jihad fī sabīlillah untuk mengik-rarkan hak-hak uluhiyyah Allah swt di muka bumi, memberikan kebahagiaan ummat manusia terhadap agama-Nya serta memerdekakan mereka dari pengab-dian kepada selain-Nya. Mereka adalah hamba-hamba Allah swt, maka saat itulah mereka akan diberikan anugerah kemer-dekaan hakiki dan ‘izzah (kemuliaan) yang sempurna. Jihad adalah jalan kemuliaan dan kehormatan bagi ummat, jalan kehi-dupan yang hakiki.

Sampai-sampai sekalipun sang mu-jahid mati dan mencapai syahid di jalan dakwah, akan tetapi di sisi Allah swt me-reka tetap berada dalam kehidupan (se-kalipun di kubur-kubur mereka) serta akan memperoleh rizki yang indah yang tak dapat diukur dengan rizki dunia. Mereka adalah orang-orang yang memperkenan-kan seruan Allah swt dan seruan Rasul-Nya saw.

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka. Dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka. Bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka ber-girang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman” [QS. Āli ‘Imrān (3): 169-171]

Dahulu, kaum muslimin hidup di te-ngah-tengah hakekat tersebut dengan si-tuasi dan perasaan mereka yang menda-lam. Di sisi mereka, jihad adalah kehi-dupan hakiki. Bukti-bukti sejarah tentang mereka sungguh tidak terhitung. ‘Umar yang menyaksikan langsung pertempuran antara Romawi dan Syam, serta seruan al-Shiddiq untuk jihad merupakan ajakan untuk hidup hakiki yang mulia.

Abu Bakar mengumpulkan para penase-hatnya, di antaranya beliau berkata: “Aku ber-maksud mengutus pasukan perang menuju pertem-puran dengan Syam, agar Allah memperkuat kaum muslimin, menjadikan kalimat-Nya tinggi, di samping kaum muslimin akan mendapatkan ba-nyak bagian. Barangsiapa yang mati, maka dia mati syahid, dan apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti. Dan barang-siapa yang masih hidup, maka dia hidup membela agamanya dan akan meraih pahala mujahidin dari Allah”.

Semuanya ikut berbicara, ‘Umar, Abdur-rahman bin `Auf, `Utsman bin `Affan, Thalhah, al-Zubayr, Sa`ad, Abu `Ubaidah, Sa`id bin Zaid dan seluruh yang hadir, semuanya se-pakat dengan Abu bakar tentang prinsip ke-merdekaan Syam.

Persatuan tercapai, Abu Bakar menyatu-kan ummat, lalu dia memuji Allah swt dan menyerukan seruan jihad. Manusiapun diam, tak ada satupun yang mampu menjawabnya, karena begitu hebatnya pasukan Romawi, yang mereka tahu betapa banyaknya jumlah dan dahsyatnya kekuatan mereka. ‘Umarpun berdiri dan berkata: “Hai seluruh kaum mus-limin! Mengapa kalian tidak menjawab khalifah Rasulullah yang menyeru kalian untuk sesuatu yang menghidupkan kalian? Seandainya itu se-buah jarak yang dekat dan perjalanan yang sing-kat, tentu kalian akan segera berangkat

Kalimat al-Faruq itu keluar dari sumber cahaya, yaitu firman Allah swt:

“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu” [QS. al-Anfāl (8): 24]

Itulah kehidupan hakiki di dalam syurga, sebuah negeri kehidupan, negeri yang me-mancarkan kehidupan hakiki yang abadi, setelah berpindah dari kehidupan dunia. Negeri akhirat adalah kenikmatan yang harus direbut oleh setiap orang serta jangan ridha untuk digantikan dengan selainnya dan ja-ngan mencari jalan untuk melepasnya. Untuk itu, seseorang harus memiliki per-siapan dan perbekalan untuk mencapai akhir perjalanannya. Dengan begitu, akan terbuka cakrawala mulia di hadapannya, cita-cita yang jauh hingga mencapai pun-cak kemuliaan dan keima-nan.

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini mela-inkan senda-gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebe-narnya kehidupan, kalau mereka menge-tahui” [QS. al-‘Ankabūt (29): 64]

Adapun orang-orang yang enggan memperkenankan seruan Allah swt dan Rasul-Nya saw, berarti menolak kehi-dupan mulia yang layak bagi kemanu-siaannya. Tidak ada yang dapat mereka raih kecuali kerendahan, hasil yang akan mereka dapatkan hanyalah kehancuran dan tempat kembali mereka adalah sik-saan dan hinaan.

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menukar nikmat Allah dengan keka-firan dan menjatuhkan kaumnya ke lem-bah kebinasaan, yaitu neraka Jahannam; mereka masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruknya tempat kediaman” [QS. Ibrāhīm (14): 28-29]

Alangkah ruginya mereka yang lebih mementingkan dunia yang fana diban-dingkan akhirat kekal selamanya. Alang-kah besar kesesatan mereka yang mem-batasi alam wujud dengan hanya apa yang mampu mereka jangkau dengan panca inderanya yang terbatas di dunia. Mereka mengira wujud mereka hanya terbatas di dalamnya, tidak bekerja un-tuk selainnya: Manusia diciptakan untuk kekal, maka sesatlah ummat yang mengira akan wafat.

Mereka hanya pindah dari negeri amal, untuk sampai ke negeri celaka atau ba-hagia.

Seluruh makna kehidupan yang kita temukan di dalam ayat yang mulia ini, berupa iman, kebenaran, jihad atau syurga di negeri akhirat… Itulah semua yang dimak-sud dan dituju, tidak ada perbedaan untuk itu semua, semuanya hanya ibarat-ibarat yang memiliki satu hakekat. Yaitu: kokoh berdiri dengan wahyu yang dibawa Rasulullah saw, baik dzahir maupun bathin. Ungkapan-ung-kapan yang tampaknya berbeda, bukanlah perbedaan kontradiktif, tetapi hanya perbe-daan redaksi.

Imam Ibnu al-Qayyim berkata:

Ayat tersebut mengandung semua makna yang disebutkan. Sesungguhnya iman, Islam, al-Qur`an dan jihad akan menghidupkan hati dengan kehidupan yang baik dan sempurna di dalam Syurga. Rasul adalah penyeru iman dan syurga serta penyeru kehidupan di dunia dan di akhirat

Wahai saudaraku kaum muslimin!

Apakah engkau siap menyongsong dak-wah mulia yang dianugerahkan Allah swt kepadamu? Agar engkau gapai kehidupan mulia. Maka, jadikanlah dengan sikap dan perkenanmu terhadap dakwah itu sebagai rambu-rambu perjalanan.

Apabila dakwah itu disampaikan untuk yang kedua kalinya, apakah engkau siap me-nyongsongnya?

Engkau tak memiliki pilihan… jika engkau seorang mukmin…  Mau iman… atau bukan iman… mau memperkenankan dan me-nyongsongnya… ataukah menolak?

Pasti bukan seorang mukmin yang menolak seruan Allah swt dan tidak mem-perkenankannya atau menjadikannya hanya lewat di belakang telinga. Memper-kenankan Allah swt dan Rasul-Nya saw adalah ciri hakiki dan simbol amali kei-manan.

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menga-dili diantara mereka ialah ucapan “Kami mendengar dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” [QS. al-Nūr (24): 51]

Seorang mukmin adalah seorang yang menyambut panggilan iman dengan se-gera.

“Ya Rabb kami, sesungguhnya kami men-dengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Rabb-mu”; maka kamipun beriman. Ya Rabb kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami ke-salahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. Ya Rabb kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan pe-rantaraan rasul-rasul Engkau. Dan ja-nganlah Engkau hinakan kami di hari kia-mat. Sesungguhnya Engkau tidak menya-lahi janji” [QS. Āli ‘Imrān (3): 193-194].

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comments links could be nofollow free.